This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label cerpen bahasa indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen bahasa indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Desember 2014

Cinta Rasa Ice Cream

“Datanglah kemari, aku menunggumu disini”
Samar-samar kuintip layar handphone yang semalaman kutimbun dalam bantal, kurogoh dalam penat, dalam kantuk yang masih menyisakan mimpi dan kecewa semalam. Kubaca pesanmu sekali lagi. Pagi buta di awal Januari.
Ini hari ulang tahunku haruskah aku menemuimu?
“Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun”
Ku tatap silau lilin-lilin yang berjajar rapih di atas blackforest, aku hanya menyunggingkan seulas senyum terharu pun tidak. Tapi permohonan yang kubuat sesaat sebelum ku tiup habis lilin-lilin kecil benar benar kulakukan dengan penuh hikmat.
“Aku sudah siapkan kado ini untukmu maaf aku tak membungkusnya aku ingin kau langsung mengenakannya”
Dadaku kian sesak penuh tanya dan rasa kecewa. Bukan tentang apa yang kau beri tapi tentang hati yang tak pasti.
“Terimakasih, aku pakai sekarang ya”
“Aku tau kau akan senang menerimanya Sa”
Kau mencium dahiku aku tak bergeming hanya air mataku tiba-tiba menetes melewati pipi dan jatuh di kerah bajuku. Sekali lagi aku tak terharu. Ini awal bulan Januari hujan akan terus mengguyur kota kecil kita yang dingin dan sunyi. Sepasang sarung tangan coklat muda kado pertama darimu di sweet seventenku mungkin akan lebih berguna dibanding setangkai mawar putih atau ucapan maaf sisa-sisa tahun baru.

Setahun yang lalu
“Sa, aku memberikan Zahra gaun putih cantik ditambah bucket mawar merah besar yang aku taruh di bangkunya, di keranjang sepedanya, di depan pintu rumahnya dan kamu tau Sa aku memesan cake besar bertuliskan I love u Zahra first n last for me aku menyiapkannya dari sore hari hingga aku memberikannya tepat di tengah malam, gimana romantis kan Sa?”
“Al, kamu tidak menghabiskan uang bulananmu kan?”
“Itu masalahnya Sa aku menemuimu untuk membantuku, lagipula aku akan senang jika melihat Zahra senang aku tak peduli seberapa banyak yang kukeluarkan asalkan itu membuat Zahraku senang. Pinjami aku seratus ribu saja”
Dengan wajah memelas, idung yang mancung mata bundar Alif teman sejak aku sekolah dasar menggenggam tanganku dan memohon. Aku selalu merasa kasihan dengannya aku tau Zahra tidak mencintai Alif sebagaimana Alif mencintai Zahra tapi apa dia akan percaya padaku sedang cinta disana telah membabi buta, membuat penghuni hatinya meratu disana di istana yang polos dan diam kini terkoyak cinta masa remaja.
“Sa, Zahra Sa, alergi dia kambuh aku harus membawanya ke klinik”
“Berapa?”
“Kau punya uang berapa?”
“Aku tidak punya uang Al, kau tau sekarang musim hujan kedai Ice cream kami sepi pengunjung dan aku ini hanya seorang siswa bukan pengusaha, tabunganku setiap bulannya dipinjami olehmu demi Zahra, Zahra, Zahra sadarlah saat kau sakit apa dia mengurusimu? Tidak kan? Lantas siapa? Aku.”
“Tisa”
Hening. Aku diam Alif diam dia meraih bangku di dekatku. Di luar hujan deras kau berlari menuju kedai Ice Cream yang kujaga tanpa memikirkan dirimu sendiri sepatu kuyup bercecer pada lantai keramik pakaian yang lusuh rambut basah klimis penuh peluh yang bercampur tetesan hujan. Aku tak mengerti seberapa kuatnya cinta hingga kau lupa. Ya, karena aku tak pernah merasa mencintai dan dicintai. Hanya kasihan padamu Alif.
“Aku tidak punya uang tapi ambilah Ice Cream ini jika kau dapat menjualnya sebelum senja kau akan dapat rupiah“
“Sa, Kau memang selalu baik padaku”
“Sudahlah, keringkan dulu rambutmu”
Kulihat dari luar jendela Alif begitu bersemangat menawarkan Ice Cream di tengah gerimis dia bersusah payah mendapatkan rupiah untuk Zahra. Ah, apakah ada sosok pria seperti Alif menjadi kekasihku.
Awal desember
“Sa, Zahra putus denganku dia mengaku jadian dengan mahasiswa tekhnik sebulan yang lalu”
“Apa dia bahagia?”
“Sepertinya iya. Aku sadar cinta tak selamanya dapat digenggam dan aku sadar bahwa kau yang selalu menggenggamku”
“Maksudmu?”
“Sa, sadarlah kau ini mencintaiku untuk apa selama ini kau membantuku?
“Aku tak mengerti. Mungkin kau benar Al tapi tidak denganmu”
“Aku pun Sa, orang pertama yang selalu kucari dan ku butuhkan hanya kamu”
“Tidak”
“Percayalah”
“Tapi kau tidak pernah berjualan Ice Cream demi mengembalikan uangku”
“Aku akan melakukannya. Jika sebelum senja habis kau harus jadi pacarku”
Dua jam saja Alif menjual habis. Aku tertegun aku tak mengerti apa yang dikatakannya soal cinta tapi aku menghargai usahanya. Seperti Ice cream rasa baru ingin kau coba meski tau Ice Cream tetaplah dingin. Hari itu dimana cinta Alif pada Zahra dibekukan dan akulah yang akan melelehkan kepingan hatinya yang beku. Entah apa yang terlintas saat itu aku hanya ingin menyelamatkan hati Alif yang rapuh. Aku menyesal membiarkannya berlarut mesra dengan Zahra. Mengapa bukan aku saja yang sejak dulu dipersatukan dengan Alif. Aku tidak berniat memanfaatkannya aku hanya ingin mengenal apa itu cinta dan aku ingin membantunya. Kenalkan aku pada cinta seperti cinta yang kau berikan pada Zahra. Tidak, aku ingin merasakanya lebih dari itu.
Akhir Desember
Tengah malam ini tidak seperti taun baru sebelumnya hujan mengguyur deras kota kecil kita. Sweat seveten. Aku menunggu kehadiranmu disini di muka halamanku membawa setangkai mawar putih atau 2 kembang api pengantar pergantian tahun dengan senyum hangat yang kubayangkan dan kau menyanyikan lagu selamat ulang tahun di pintu rumahku.
Alif jelaskan padaku apakah cinta itu berbeda rasa seperti Ice Cream yang kau jual untuku demi hutangmu atau untuk Zahra yang kau jual dengan tulus. Apakah cinta untuk Zahra rasa vanila putih manis lembut dan cinta untuk Tisa rasa coklat dengan potongan kacang. Apakah jika aku tidak meminta setangkai mawar putih apakah kau tidak akan memberikannya untukku? Seperti kau memberikan bucket mawar merah besar pada Zahra.
“Alif ini jam satu malam”
Kulirik layar handphone lalu menimbunnya di bawah bantal. Alif tengah malamku berakhir kantuk mulai menjalar dari ujung kaki hingga ubun-ubun tubuhku hendak tertidur pulas. Aku tak menunggu ucapan selamat tahun baru ataupun selamat ulang tahun darimu bahkan aku berhenti mengharapkan setangkai mawar putih. Setangkai saja dibalut cinta rasa ice cream vanila.
Cerpen Karangan: Arimbi Yoannira
Facebook: yoanniraarimbi[-at-]yahoo.co.id

Senja Penanti Hujan

Sore sudah berganti senja. sisa hujan yang turun mulai rintik di sela langit jogja. saya masih celingukan di antara ruas jalan mencari sisa angkutan umum untuk mengantar saya pulang. ‘tumben’ gumam saya. para angkutan umum itu sudah berputar-putar melewati wajah saya. Tapi apa mau dikata, jejalan yang bahkan sampai memenuhi pintu masuk kendaraan umum itu sudah terisi. Tercium aroma kepulan asap putih dari gerobak mie ayam di seberang jalan sana, membuat perut saya bergetar, saya putuskan untuk makan dulu saja.
“halah mas, mas. tukang angkot memang begitu. lah aku kemarin sama keluargaku tumpuk-tumpukan di dalem, masih aja dia ngetem, ngakunya kosong, iki mas” celoteh pedagang mie ayam sambil menyodorkan satu mangkuk bergambar ayam jago merah di permukaannya.
“pernah mas waktu itu, penumpangnya banyak bener, sampe kempes ban mobilnya” ucapnya lagi.
Saya tertawa mendengar pedagang mie ayam itu. logat jawanya yang kental serasi dengan mimik wajahnya yang membuat saya terpingkal dalam hati. Saya masih asik dengan suapan mie yang masih hangat, sementara mata saya terpaku pada sebuah jembatan tua yang sudah banyak dipenuhi bekas-bekas stiker dan coretan-coretan pilog di permukaan tubuhnya. Ada sebuah sosok disana, rasanya saya familiar dengannya.
Setelah merogoh uang sepuluh ribuan saya langsung menuju jembatan tadi. Wanita berambut coklat gelap, dengan baju biru langitnya berdiri sambil memegang tiang batas jembatan itu. Saya tidak mengenalnya, saya bahkan tidak merasa pernah bertemu dengannya. Rasa familiar yang tadi itu, ah, anggap saja itu alasan, mungkin saya hanya ingin melihatnya dari dekat. atau hanya ingin mengetahui bayang itu dengan jelas. Saya hanya terus melihatnya dari kejauhan. Sampai angkutan umum berwarna merah tua datang menjemput saya, sosok itu, tetap diam di bawah bayang.
—
Rasanya aku tidak pernah melihat atau bertemu dengannya, tapi kenapa ia memperhatikanku begitu lekat? atau jangan-jangan ia bermaksud jahat padaku? atau jangan-jangan dia.. ah sudahlah, lebih baik aku diam sampai dia pergi. Sebenarnya aku tidak berencana menghabiskan waktuku di jembatan jelek ini, aku hanya bosan menunggu malam hinggap di kamarku. Aku juga tidak suka berada di satu tempat yang sama dalam waktu yang lama, tapi tidak dengan tempat ini, tidak dengan jembatan ini.
Dia masih melihatku. Kuperhatikan ia sejenak, wajahnya terlihat lugu dan kebingungan saat menatapku. Dia hanya pria penyanggul tas hijau di atas bahunya. Mungkin dia penasaran atau benar-benar berniat jahat padaku? ‘ketahuilah, hey kau pria penyanggul tas hijau, aku hanya menghabiskan senjaku disini, pergi dan jangan menggangguku’ ucapku kesal dalam hati. Aku tidak bermaksud mengusirnya, aku hanya tidak suka ada seseorang yang lama-lama menatapku, membuatku gugup, atau, kesal.
Kendaraan berwarna merah tua datang dari selatan, melenyapkan pria itu disusul deru asap knalpot hitam yang berbekas di udara. Aku masih memperhatikan kendaraan merah tua itu dari kejauhan, melihat pria mencurigakan itu pergi, menghilang disusul langit yang mulai pekat.
—
Sore itu masih terik. Sinar matahari yang tersisa masih mengancam awan menyingkir dari langit agar menyisakan ruang untuk tahtanya. Saya masih setia dengan sepatu vans butut di kaki saya untuk menapaki aspal panas atau sekedar tanah pasir dan batu yang kering. Sore di alun-alun jogja memang seringkali terasa panas, apalagi tanpa dilindungi topi satu pun saya mengarungi jalan pulang dari kampus ke kos-kosan mini saya. Sesampainya di perempatan jalan, saya menyebrangi garis putih putus-putus yang melukis aspal hitam yang mengering. Saya menemukan gerobak mie ayam kemarin dengan bapak berkumis tipis di balik tenda yang menghiasi wilayah dagangnya.
“minta siji pak, tambah pangsit piro?”
“dua belas mas, komplit itu karo es teh”
“yowis boleh pak” ucap saya sambil duduk di bangku biru yang sudah berjajar rapi di samping meja kayu panjang. Sambil membuka emping dalam plastik kecil saya tertegun ke arah jembatan kemarin. Jembatan itu kini lengang. Belum ada siapa-siapa disana.
“bapak sering lihat cewek di jembatan sana nggak pak?”
“sering mas, tiap sore dia disitu. arep bunuh diri kali dia”
“Hus si bapak malah bercanda”
Mie ayam di mangkok saya sudah ludes diganti segelas es teh manis yang juga habis. Saya keluar untuk mencari wanita yang kemarin di jembatan itu, benar, dia sudah disana sekarang. Saya penasaran dengannya, kenapa ada orang aneh yang menghabiskan sisa harinya di wilayah seperti ini. Setahu saya, jarang mahasiswa atau mahasiswi yang sekedar mampir ke tempat ini hanya untuk menikmati sisa hari, selebihnya saya tidak tahu, mungkin sama seperti saya, menunggu angkutan umum untuk mengantar pulang menggantikan kaki yang sudah lelah.
Saya sudah di sebelahnya sekarang. dua meter di sampingnya, tepatnya. Wanita itu hanya menatap kosong ke arah langit jingga yang hinggap di langit-langit angkasa. Saya memperhatikannya amat lekat, sampai mungkin ia terganggu. Dia benar-benar terganggu, dia menoleh ke arah saya. Dia hanya diam, saya juga diam. Saya palingkan wajah saya ke langit yang lapang, menahan malu karena tertangkap basah memperhatikannya. Buru-buru saya hilang dari tempat itu, menghentikan besi merah tua beroda empat dengan lambaian tangan yang menari disekap malu.
—
Hujan masih turun. Aku masih terbenam di kasur empukku sambil memeluk guling kecil dalam selimut. Gemericik air yang menapak jalan terdengar bising disusul angin yang menghunus di antara daun dan pepohonan di luar rumah. ‘ah, aku jadi ingat pria itu’ gumamku dalam hati. Sudah sekitar empat belas hari ini dia selalu datang di sebelah dua meter di sampingku menangkap akhir sore yang kerap ditutupi awan. Dia tetap seperti yang kutahu, wajahnya masih lugu. Mungkin bodoh. Tapi aku tidak peduli, dia bukan orang asing bagiku, dia tumpuan soreku. Senja juga terlukis di pelupuk matanya.
Aku ingin mengajaknya berbicara, tapi aku takut dia bertanya sesuatu yang tidak aku inginkan. ‘apa yang kau lakukan disini?’ Aku takut kata-kata itu terucap dan membuat kami tidak lagi menikmati kaki senja di bawah bayang jembatan tua. Mungkin bila saat itu terjadi aku akan bercerita padanya tentang sesuatu yang akan membuat kenanganku kembali lalu tenggelam dalam tangis. Ah, air mataku jatuh. sudahlah, yang penting saat pria berwajah lugu itu bertanya demikian, aku akan meninggalkannya. Karena aku pasti bercerita padanya dan akan membencinya.
Sudah hampir satu bulan kami menyisakan sore di bawah jembatan. Menyimpan kenangan kami tanpa suara atau perkenalan. Masih dalam bisu. Tiba-tiba pria yang selalu dua meter di sebelahku menghampiriku dan memperkenalkan dirinya dengan sangat gagah. Aku hanya sambut tersenyum saat dia menggantungkan tangannya di udara sambil menyebutkan namanya. Kusambut tangan itu, aku ingat namanya, Danis.
“jadi namamu Amy toh”
“ada yang aneh dengan namaku?”
“tidak, lucu saja. hampir sebulan kita sama-sama menikmati senja, tapi aku baru tahu namamu sekarang” ucapnya penuh riang. Aku senang melihat rambutnya yang diponi lurus tebal.
“maaf, aku tidak berani menyapamu”
“tidak apa-apa, aku yang harusnya duluan menyapamu. ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan disini setiap sore?” petir seperti tersambar di depan hidungku. Dia menanyakannya.
“kok diam? aku tidak ingin menganggapmu gila dan ingin bunuh diri seperti abang mie ayam disana itu. jadi, apa yang kau lakukan disini?” tanyanya lagi.
“aku menunggu seseorang, dia tak kunjung datang”
“dia pacarmu?”
“bukan, dia orang yang kucintai”
Aku berkisah padanya. Aku bercerita tentang sosok yang masih tersimpan rapi di relungku. Aku menunggunya, tapi ia tak jua muncul, menghilang. Terakhir kali kami bertemu, adalah di jembatan ini, waktu itu dia berlutut sambil menggenggam bunga mawar di tangannya. Aku menerimanya bak putri-putri dalam dongeng yang seringkali disiarkan di tv pagi-pagi sekali. Kami tidak berkata apa-apa disitu, kami hanya menikmati waktu yang ada sambil tersenyum dengan jemari yang melekat seperti biasa. Kenangan manis itu pupus menjadi lara. Setelah mendengar kabar kehamilanku dia sontak terkejut dan menyuruhku melenyapkan kandungan muda di rahimku atas perbuatannya. Dia mencercaku sampai akhirnya melepaskan pelukanku di atas jembatan ini, dan tak pernah kembali lagi.
“untuk apa menunggu orang yang pantas untuk mati?” dia bertanya demikian. Aku masih terisak di antara sungai mataku sendiri.
“untuk apa menunggu orang yang tak kunjung datang?” ucapnya lagi sambil menatapku.
“aku mencintainya” aku terisak.
“cinta bukan hal bodoh seperti itu, untuk apa kau menangisinya? dia bahkan tak pantas”
“aku mencintainya” aku masih terisak.
—
Sudah hampir agak lama saya serius mengerjakan skripsi saya pada bab akhir semester saya. Saya tidak sempat ke jembatan itu lagi, karena saya harus melakukan riset ke wilayah-wilayah lain selain di kota pelajar dengan makanan khas gudegnya ini. Saya teringat wanita itu. Masihkah ia menghabiskan akhir sore di jembatan kecil yang tua itu? atau masihkah ia menyisakan sedikit senyum saat langit mulai berwarna jingga kemerahan? entahlah, yang pasti, saya menuju kesana, ke jembatan tua untuk bertemu dengannya.
Perempatan itu masih saja ramai. Jembatan itu masih kosong. ‘ada apa ini, padahal senja sudah turun dari tadi, kemana gerangan ia’ gumam saya. Bahkan langit mulai malam, lampu-lampu warung dan gedung sekitar sudah menyala. Sudah pukul tujuh lewat sekarang. Saya tidak kunjung bertemu dengannya. Saya menyerah, mungkin dia tidak datang hari ini, aroma kepulan asap putih dari kejauhan mengundang saya lagi untuk mengisi perut yang agak kosong.
“pak, cewek yang sering di jembatan itu, kok nggak ada ya hari ini?” ucap saya setelah memesan.
“loh, mas belum tahu? mbak itu meninggal mas, bunuh diri, terjun dari jembatan”
tercekat saya dibuatnya. ‘wanita itu bunuh diri? Amy? dia bunuh diri?’ Tanya saya dalam hati seolah tak percaya. Sebegitu sakitkah kenangannya sampai ia melakukan itu?. Angin bertiup lagi, menyisakan mawar yang membusuk di pinggir aspal dekat jembatan.
Hujan turun lagi. bau tanah yang basah yang tidak asing itu mencuri setiap kesempatan untuk masuk lewat celah kecil di atas jendela saya. Tiba-tiba saya terjaga, melihat di balik jendela ribuan anak hujan jatuh disusul suara dentuman mereka yang keras. Sudah tiga bulan ini hujan tak henti untuk menangis. Membuat saya resah sendiri untuk melewati sisa malam yang kunjung pagi dengan kenangan yang tersimpan rapi di benak saya.
Saya lebih suka ke jembatan itu sekarang. Entah kenapa saya menunggu wanita berambut coklat gelap itu datang lagi. Saya menunggunya sembari menghabiskan waktu untuk berdiam diri di kamar. Ada yang mengusik saya, seorang wanita yang memperhatikan saya dengan keluguan di seberang jalan dekat gerobak mie ayam yang sering saya datangi. Dia menghampiri saya, berdiri tepat dua meter di sebelah saya, tidak berkata apa-apa, masih bisu dalam hening. Menghabiskan sisa senja di bawah jembatan tua.
“Mas, apa yang kau lakukan disini?”
Cerpen Karangan: Reza Patrick Orlando
wumbology

Senin, 15 Desember 2014

PUPUH III G A M B U H

PUPUH III
G A M B U H
01
Sekar gambuh ping catur, kang cinatur polah kang kalantur, tanpa tutur katula-tula katali, kadaluwarsa kapatuh, katuruh pan dadi awon.

Sekar gambuh pola yang keempat,  yang menjadi bahan perbincangan adalah perlaku yang tidak teratur, tidak mau mendengar nasihat, semakin lama semakin tak terkendali, hal ini akan berakibat buruk.


02
Aja nganti kabanjur, barang polah ingkang nora jujur, yen kebanjur sayekti kojur tan becik, becik ngupayaa iku, pitutur ingkang sayektos.
Jangan sampai kau terlanjur dengan tingkah polah yang tidak jujur, jika sudah telanjur akan mecelakakan, dan hal itu tidak baik. Oleh karena itu, berusahalah ajaran yang sejati.
03
Tutur bener puniku, sayektine apantes tiniru, nadyan metu saking wong sudra papeki, lamun becik nggone muruk, iku pantes sira anggo.

Ajaran yang benar itu patut kau ikuti, meskipun berasal dari orang yang rendah derajatnya, namun jika baik dalam mengajarkan, maka ia pantas kau terima.
04
Ana pocapanipun, adiguna adigang adigung, pan adigang kidang adigung pan esthi, adiguna ula iku, telu pisan mati sampyoh.
Ada kiasa yang berbunyi adiguna, adigang, adigung, adigang kiasan kijang, adigung kiasan gajah, dan adiguna kiasan ular. Ketiganya mati bersamaan.
05
Si kidang ambegipun, angandelaken kebat lumpatipun, pan si gajah angandelken gung ainggil, ula ngandelaken iku, mandine kalamun nyakot.

Tabiat si kijang adalah menyombongkan kecepatannya berlari, si gajah menyombongkan tubuhnya yang tinggi besar, sedangkan si ular menyombongkan bisaya yang ganas bila menggigit.
06
Iku upamanipun, aja ngandelaken sira iku, suteng nata iya sapa kumawani, iku ambeke wong digang, ing wasana dadi asor.
Itu semua hanya perumpamaan, janganlah kau menyombongkan diri karena putra raja sehingga merasa tidak mungkin ada yang berani, itu tabiat yang adiganng, ujung-ujungnya merendahkanmu.


07
Adiguna puniku, ngandelaken kapinteranipun, samubarang kabisan dipundheweki, sapa bisa kaya ingsun, togging prana nora enjoh.

Watak adiguna adalah menyombongakan kepandaiannya, seluruh kepandaian adalah miliknya. Siapa yang bisa seperti aku, padahal akhirnya tidak sanggup.
08
Ambek adigung iku, angungasaken ing kasuranipun, para tantang candhala anyenyampahi, tinemenan nora pecus, satemah dadi geguyon.
Tabiat orang adigung adalah menyombongkan keperkasaan dan keberaniannya, semuanya ditantang berkelahi, bengis, dan suka mencela. Tetapi jika benar-benar dihadapi, ia tak akan melawan, bahkan jadi bahan tertawaan.

09
Ing wong urip puniku, aja nganggo ambek kang tetelu, anganggowa rereh ririh ngati-ati, den kawangwang barang laku, kang waskitha solahing wong.

Dalam kehidupan, jangan kau kedepankan tiga tabiat tersebut, berlakulah sabar, cermat, dan hati-hati. Perhatikan segala tingkah laku, waspadai segala perilaku orang lain.
10
Dene tetelu iku, si kidang suka ing panitipun, pan si gajah alena patinireki, si ula ing patinipun, ngandelaken upase mandos.

Dari ketiganya itu, si kijang mati karena kegembiraannya, gajah mati karena keteledorannya, sedangkan ular mati karena keganasan bisanya.
11
Tetelu nora patut, yen tiniru mapan dadi luput, titikane wong anom kurang wewadi, bungah akeh wong kang nggunggung, wekasane kajalomprong.

Ketiganya tidak patut kau tiru, kalau kau tiru akibatnya akan buruk. Ciri-ciri pemuda adalah tidak dapat menyimpan rahasia , senang bia banyak yang menyanjung yang akhirnya menjerumuskan.
12
Yen wong anom iku, kakehan panggunggung, dadi kumprung, pengung bingung wekasane pan angoling, yen ginunggung muncu-muncu, kaya wudun meh mencothot.

Jika pemuda terlalu banyak sanjungan, maka ia menjadi tolol, tuli, dan bingung, akhirnya mudah diombang-ambingkan, jika sedang dimuji, maka monyong seperti bisul yang hampir meletus
13
Dene kang padha nggunggung, pan sepele iku pamrihipun, mung warege wadhuk kalimising lathi, lan telese gondhangipun, reruba alaning uwong.

Adapun yang senang menyanjung sangat sederhana keinginannya, yaitu kenyang perut, basah lidah dan tenggorokan dengan menjual keburukan orang lain.
14
Amrih pareke iku, yen wus kanggep nuli gawe umuk, pan wong akeh sayektine padha wedi, tan wurung tanpa pisungsung, adol sanggup sakehing wong.
Supaya dekat (dengan atasan). Jika sudah terpakai kemudian membuat ulah dengan membuat orag menjadi takut sehingga ia menerima upeti dari hasil menjual kemampuan orang lain.
15
Yen wong mangkono iku, nora pantes cedhak lan wong agung, nora wurung anuntun panggawe juti, nanging ana pantesipun, wong mangkono didhedheplok.

Orang seperti itu tidak pantas untuk berdekata dengan pembesar karena dapat mendorong untuk berbuat jahat. Meskipun begitu tetap ada kepantasannya, yaitu ditumbuk.
16
Aja kakehan sanggup, durung weruh tuture agupruk, tutur nempil panganggepe wruh pribadi, pangrasane keh kang nggunggung, kang wus weruh amalengos.

Jangan terlalu merasa tahu banyak. Belum melihat dengan mata kepala sendiri tetapi banyak berbicara, bahkan hanya dengan mendengar seolah-olah mengetahui sendiri. Dikiranya banyak yang menyanjung, padahal yang mengetahuinya akan memalingkan muka.
17
Aja nganggo sireku, kalakuwan kang mangkono iku, nora wurung cinirenen den titeni, mring pawong sanak sadulur, nora nana kang pitados.

Oleh karena itu, Nak. Jangan kau bersikap seperti itu karena pasti akan mencadi catatan dalam hati sanak saudara. Mereka tidak akan percaya lagi kepadamu.

Serat Wulangreh PUPUH I DHANDHANGGULA

Serat Wulangreh ngrupiaken satunggaling genre salebeting khasanah sasra Jawi, sanajan mboten sedanten kalebet teng saleneting teks wulang sacaos sinurat anyebat atanapi kasebat teng tembung wulang kados dening kang wonten teng judull punika. Sacaos harfiah, ‘wulang‘ artosipun weling atanapi wawaler.
wonten pinten-pinten teks kang kalebet teng salebeting wulang, di antawiseWulangreh, Wulang Putri, Wedhatama, Tripama, lan Sanasunu. Teks-teks ingkang kasebat punika katahe ngrupiaken asil susastra keraton, ingkang kawentar ngantos tebih sajawining tembok keraton salebeting tataran kabudayan Jawi, sanajan lami-lami sacaos alon-alon pupus dening dinamika kabudayan sastra Jawi ing atasing “Kebudayaan Indonesia”. Mangga sami-sami mulasara kabudayan Jawi punika.
PUPUH I
DHANDHANGGULA
01
Pamedare wasitaning ati, cumanthaka aniru Pujangga, dhahat mudha ing batine, nanging kedah ginunggung, datan wruh yen keh ngesemi, ameksa angrumpaka, basa kang kalantur, turur kang katula-tula, tinalaten rinuruh kalawan ririh, mrih padhanging sasmita.
Uraian nasihat ini bermula dari kelancangan hati berniat meniru para pujangga, padahal (aku) sangatlah bodoh. Tetapi karena ingin disanjung, tidak tahu jika kelak banyak yang mencibir. Memaksakan diri untuk menciptakan, (meski) dengan bahasa yang kacau balau bahkan tersia-sia, namun (hal ini) kususun dengan teliti dan sabar, semoga isyarat ini menjadi jelas.
02
Sasmitaning ngaurip puniki, apan ewuh yen nora weruha, tan jumeneng ing uripe, akeh kang ngaku-aku, pangrasane sampun udani, tur durung wruh ing rasa, rasa kang satuhu, rasaning rasa punika, upayanen darapon sampurna ugi, ing kauripanira.
Isyarat dalam kehidupan ini, tidak mungkin kau pahami jika kau tak mengetahuinya, tidak akan memiliki ketenangan dalam hidupnya. Banyak yang mengaku dirinya sudah memahami isyarat (dalam hidup), padahal belum mengolah rasa, inti dari rasa yang sesunguhnya. Oleh karena itu, berusahalah (memahami makna rasa itu), agar sempurna hidupmu.
03
Jroning Kur’an nggonira sayekti, nanging ta pilih ingkang uninga, kajaba lawan tuduhe, nora kena den awur, ing satemah nora pinanggih, mundak katalanjukan, temah sasar-susur, yen sira ayun waskita, sampurnane ing badanira, punika sira anggegurua.
Di dalam Al-Quran tempatmu mencari kebenaran sejati, hanya yang terpilih yang akan memahaminya ,kecuali atas petunjuk-Nya. Tiadk boleh dicampur-adukan, tak mungkin kau temukan (kebenaran isyarat), bahakan kau semakin tersesat. Jika kau menghendaki kesempurnaan dalam dirimu, maka bergurulah.
04
Nanging yen sira ngguguru kaki, amiliha manungsa kang nyata, ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing kukum, kang ngibadah lan kang ngirangi, sukur oleh wong tapa, ingkang wus amungkul, tan mikir pawewehing liyan, iku pantes sira guronana kaki, sartane kawruhana.
Meskipun begitu, jika engkau berguru, Nak. Pilihlah guru yang sebenarnya, tinggi martabatnya, memahami hukum, dan rajin beribadah. Syukur-syukurjika kau temukan seorang pertapa yang tekun dan tidak mengharapkan imbalan orang lain, dia pantas kau gurui. Serta ketahuilah
05
Lamun ana wong micareng ngelmi, tan mupakat ing patang prakara, aja sira age-age, anganggep nyatanipun, saringana dipun baresih, limbangen lan kang patang, prakara rumuhun, dalil qadis lan ijemak, myang kiyase papat iku salah siji, anaa kang mupakat.
Jika seseorang berbicara tentang ilmu, tetapi tidak sesuai dengan empat hal, janganlah engkau terlalu cepat menganggap benar adanya. Saringlah agar bening dan ukurlah dengan empat hal, yaitu dalil, hadis, ijmak, dan kiyas. Salah satu dari keempat hal itu harus ada yang sesuai.
06
Nora kena lamun den antepi, yen ucula sing patang prakara, nora enak legetane, tan wurung ningal wektu, panganggepe wus angengkoki, nora kudu sembahyang, wus salat katengsun, banjure mbuwang sarengat, batal karam nora nganggo den singgahi, bubrah sakehing tata.

Tidak boleh kau terima (isyarat) jika lepas dari empat hal tadi, karena biasanya tidak baik. (kau akan) merasa sudah menjalankan ‘laku’ sehingga yidak harus sembahyang, akhirnya meninggalkan syariat, tidak perlu tahu mana yang haram dan batal. Hal itu akan merusak aturan.
07
Angel temen ing jaman mangkin, ingkang pantes kena ginuronan, akeh wong njaja ngelmune, lan arang ingkang manut, yen wong ngelmu ingkang netepi, ing panggawene sarak, den arani luput, nanging iya sasenengan, nora kena den uwor kareping janmi, papancene priyangga.
Memang sulit mencari seseorang yang patut kau gurui di zaman ini. Banyak yang menjajakan ilmu tetapi jarang yang mengikutinya. Jika seseorang berilmu dan menjalankan lakunya dengan benar, malah  dianggap salah. Namun itu hak masing-masing, tidak boleh kau samakan keinginan orang, masing-masing memiliki perbedaan.
08
Ingkang lumrah ing mangsa puniki, apan guru ingkang golek sabat, tuhu kuwalik tingale, kang wus lumrah karuhun, jaman kuna mapan si murid, ingkang padha ngupaya, kudu anggeguru, samengko iki tan nora, Kyai Guru naruthuk ngupaya murid, dadiya kanthinira.
Yang biasa terjadi pada masa kini adalah guru yang mencari murid, itu tampak sangat ironis dengan kebiasaan yang terjadi di masa lalu. Zaman dulu murid yang berusaha mencari dan harus berguru, sekarang tidak begitu, malah guru yang ke sana ke mari mencari murid. Jadikan sebagai pengangan (kanthinira merupakan isyarat pola tembang berikutnya, yaitu Kinanthi).