This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 07 November 2013

SEJARAH DAKWAH ISLAM ; MASA BANI ABBASIYAH



 
 Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
        Secara etimologi, dakwah berarti memanggil,menyeru,dan mengundang.Adapun pengertian Dakwah secara terminologi,yaitu ajakan untuk mentaati dan mengikuti ajaran agama yang dibawa oleh nabi Muhammad saw sebagai agama yang dikehendaki dan diridai oleh Allah swt.Dipandang dari segi terminologinya,adapun beberapa definisi dari para Ahli,yaitu sebagai berikut;dakwah menurut syaikh ali mahfuzh adalah mendorong manusia agar memperbuat kebaikan dan petunjuk,menyuruh mereka berbuat kebaikan dan mencegah dari perbuatan Mungkar agar mereka mendapat kebahagiaan di Dunia dan di Akhirat,dakwah menurut Abu Bakar Zakaria;Dakwah ialah usaha para ulama dan orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang Agama islam untuk memberi pengajaran kepada khalayak hal-hal yang dapat menyadarkan mereka tentang urusan Agama dan urusan dunia sesui dengan kemampuannya.Jika dilihat dari segi Metode, dakwah dibagi menjadi tiga macam yaitu sebagai berikut;
1.  Dakwah bi al-Kitabah, yaitu berupa buku, Majalah, surat kabar,spanduk, pamplet, lukisan-lukisan dan sebagainya.
2.  Dakwah bi al-Lisan, meliputi Ceramah, seminar, diskusi, khutbah,obrolan dan sebagainya.
3.  Dakwah bi al-Hal, yaitu berupa perilaku yang sopan sesuai dengan ajaran islam, memelihara lingkungan, tolong-menolong sesama, misalnya membantu fakir miskin, memberikan pelayanan sosial dan sebagainya.
            Kita mengetatahui bahwa Dakwah adalah kewajiban menyampaikan ajaran islam yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang bertujuan untuk mengembangkan agama Islam.oleh karena itu, setelah nabi Muhammad SAW meninggal Dunia, banyak yang mengembangkan kegiatan yang mulia ini selain sahabat-sahabat Rasulullah Saw, salah satunya yaitu pada Masa Bani Abbasiyah.
1.2  Rumusan masalah
1.    Bagaimana sejarah peradaban bani Abbasiyah?
2.    Bagaimana sejarah perkembangan Dakwahnya?
1.3 Tujuan Penulisan
1.    Menguraikan atau menjelaskan Sejarah peradaban dan Dakwah Islam di Masa Bani Abbasiyah.
2.    Membuat penyusunan Makalah mengenai sejarah Dakwah di Bani abbasiyah.
1.4 Manfaat Penulisan
1.    Dapat dijadikan Bahan referensi
2.    Meningkatkan pengetahuan mahasisiwa mengenai Sejarah Dakwah khususnya sejarah Dakwah pada masa Bani Abbasiyah.
BAB II
Pembahasan
2.1 Khilafah bani abbasiyah
                       
Bani Abbasiyah Pertama Kali didirikan oleh Abdullah as-safa ibn muhammad ibn ali bin Abdullah ibn al-abass atau yang disingkat dengan Abu al-abbas al-safah pada tahun 132 H/750 M.Dinamakan Bani abbasiyah karena Para pendiri dan Penguasa dinasti ini merupakan keturunan abbas yang tak lain adalah paman Nabi Muhammad SAW.Pemerintahan Abbasiyah Melanjutkan pemerintahan Bani Umayyah yang telah hancur di Damaskus.Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti terpanjang, berkisar antara 750- 1258 M.Awal kekuasaan Dinasti Abbasiyah ditandai dengan Pembangkangan Bani Umayyah di Andalusia (Spanyol).Pada periode pertama Bani Abbasiyah mengalami kemajuan. Namun sayang , kekuasaan pada masa Abu Al-Abbas,pendiri dinasti ini  tidak bertahan lama yaitu 750-754 M.Oleh karena itu Pada Tahun 762 M , Abu Jafar al-Manshur yang berperan penting dalam pemerintahan Abbasiyah , memindahkan Ibukota dari Damaskus ke Hasyimiyah, kemudian dipindahkan lagi ke Baghdad dekat dengan Ctesiphon , bekas Ibukota Persia. Oleh karena itu , ibukota pemerintahan Dinasti Abbasiyah berada ditengah-tengah bangsa persia.Popularitas Daulah Abbasiyah mencapai puncak keemasannya pada masa Khalifah Harun al-Rasyid dan puteranya Al-Ma’mum.
Adapun periode-periode khilafah bani Abbasiyah dibagi menjadi lima yaitu sebagai berikut;
v  Periode pertama ( 132 H-232 H/ 750 M- 847 M)
    Walaupun Abu abbas adalah pendiri Dakwah ini, pemerintah yang hanya singkat( 750- 754 M). Pembina dakwah ini sebenarnya adalah Abu jafar Al-Mansur. Dia dengan keras menghadapi lawannya dari bani umayyah. Untuk mengamankan kekuasaannya, ia menyingkirkan satu persatu tokoh besar sezamannya yang mungkin menjadi pesaing baginya. Abdullah bin ali dan Salih bin ali, keduanya adalah paman sendiri yang telah ditunjuk sebagai Gubernur oleh khalifah sebelumnya di Suriah dan Mesir, akhirnya terbunuh ditangan Abu muslim Al-Khurasani karena tidak bersedia membaiatnya. Untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas Negara yang baru berdiri itu, Al-manshur kemudian memindahkan Ibukota dari Al-hasyimiyah, dekat Kufah, ke kota yang baru dibangunnya,Baghdad, pada tahun 767 M.
Tingkat kemakmuran yang paling tinggi adalah pada zaman Harun ar-Rasyid. Kesejahteraan sosial, kesehatan , pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah Negara islam menempatkan dirinya sebagai Negara terkuat tak tertandingi.
v  Periode kedua (847 M- 945 M)
     Khalifah Al-mu’tashim, khalifah berikutnya, memberi peluang besar orang turki masuk pada pemerintahan, keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal.Daulah abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Praktek orang muslim mengikuti perjalanan sudah terhenti. Ketentaraan kemudian terdiri dari prajurit-prajurit Turki yang profesional. Kekuatan militer dinasti Abbas menjadi sangat kuat. Akibatnya, tentara itu menjadi sangat dominan sehingga khalifah berikutnya sangat dipengaruhi atau menjadi boneka ditangan mereka.
Khilafah Al-mu’tashim terhadap unsur turki dalam ketentaraan dilatarbelakangi oleh adanya persaingan antara golongan arab dan Persia pada masa Al-ma’mun dan sebelumnya. Al-mu’tashim dan khalifah sesudahnya, al-Wasiq, mampu mengendalikan mereka. Akan tetapai, khalifah al-muttawakkil wafat, merekalah yang memilih dan mengangkat khalifah sesuai dengan kehendak mereka.
v  Periode ketiga( 945 M- 1055 M)
Periode ini daulah Abbasiyah berada dibawah kekuasaan bani Buwaihi. Keadaan khilafah lebih buruk dari pada masa sebelumnya, terutama karena Bani Buwaihi adalah penganut Aliran syiah. Meskipun demikian, dalam bidang ilmu pengetahuan , daulah abbasiyah mengalami kemajuan pada periode ini. Pada masa ini muncul para pemikir besar, seperti; Al-farabi, Ibn-sina, dan Al-biruni.
v  Periode keempat ( 1055 M- 1119 M)
Periode ini ditandai dengan kekuasaan Bani Seljuk atas Daulah Abbasiyah. Adanya khalifah Bani Seljuk ini adalah atas “ Undangan” khalifah untuk melumpuhkan kekuatan Bani buwaihi di Baghdad. Keadaan khalifah  memang membaik, paling tidak karena kewibawaannya dalam bidang agama kembali setelah beberapa lama dikuasai orang syiah. Sebagaimana pada periode sebelumnya, ilmu pengetahuan juga berkembang pada periode ini. Nizam al-mulk, perdana menteri mendirikan madrasah Nizamiyah (1067) dan Hanafiyah di Baghdad.
Dalam bidang politik, pusat kekuasaan menjadi beberapa profinsi dengan seorang Gubernur untuk mengepalai masing-masing propinsi tersebut. Pada masa kekuasaan melemah, masing-masing propinsi memerdekakan diri.
v  Periode kelima ( 1119 M- 1258 M)
Pada periode ini, khalifah Abbasiyah tidak lagi berada dibawah kekuasaan suatu dinasti tertentu. Mereka merdeka dan berkuasa,tetapi hanya di Baghdad dan sekitarnya. Sempitnya wilayah kekuasaan khalifah menunjukkan kelemahan politiknya. Pada masa inilah datang tentara mongol dan tartar menghancurluluhkan Baghdad tanpa perlawanan 1258 M.
Faktor-faktor yang membuat daulah Abbasiyah lemah dan hancur dapat dikelompokkam menjadi faktor intern dan faktor ekstern
1)    Faktor intern
v  Adanya persaingan yang tidak sehat antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam daulah Abbasiyah, terutama Arab, Persia, dan turki.
v  Adanya konflik aliran pemikiran dalam islam yang sering menyebabkan timbulnya konflik berdarah
v  Munculnya Dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dari kekuasaan pusat di Baghdad.
2)    Faktor ekstern
v   Perang salib yang terjadi dalam beberapa gelombang
v   Hadirnya tentara mongol dibawah pimpinan Hungu kahn dan menguasai kota Baghdad.
   
2.2 Lingkup Negara dan Penguasa
            Khalifah Harun ar-Rasyid dikenal sebagai Khalifah yang sangat memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan bagi masyarakatnya baik itu Ilmu pengetahuan Agama maupun Ilmu pengetahuan umum. Oleh karena itu, masyarakat Daulah Abbasiyah menghormati Para ulama yang memberikan pengajaran kepada mereka. Selain masyarakatnya yang belajar dari para ulama, keturunan para penguasapun juga diajari segala Ilmu pengetahuan. Kemudian para penguasa memberikan fasilitas dalam rangka upaya penerjemahan berbagai ilmu pengetahuan dari bahasa lain ke dalam bahasa Arab. Setelah itu, melakukan perluasan dan pembinaan wilayah dawah.
            Para pemimpin dinasti Abbasiyah pada masa kejayaannya memandang Dunia adalah sarana yang mengantarkan manusia untuk mencapai kebahagiaan Akhirat, mereka juga mempercayai bahwa seluruh materi tidak dapat dipisahkan dari Rohani. Para khalifah dinasti Abbasiyah telah behasil menyiapkan landasan bagi perkembangan pengetahuan serta filsafat didalam agama islam. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan berkembangnya ilmu pengetahuan, filsafat dan ilmu-ilmu lainnya.
*      Kontak antara islam dan persia yang menjadi jembatan berkembangnya sains dan filsafat karena secara kultural persia banyak berperan dalam pengembangan keilmuan yunani, terutama Akademi Jundisapur dan pusat-pusat ilmiah lain seperti salonika, ctesipon, dan nishapur.
*      Para khalifah Abbasiyah sangat mencintai ilmu, terutama khalifah Harun al-Rasyid dan al-Makmum.
*      Peran keluarga Barmak sebagai pendidik di Lingkungan Istana, secara turun-temurun menjadi penasihat intelektual khalifah.
*      Banyaknya aktivitas penterjemahan literatur-literatur yunani ke dalam bahasa arab yang di dukung dengan kebijakan khalifah dengan cara memberikan imbalan kepada penterjemah.
*      Adanya peradaban dan kebudayaan yang heterogen di Baghdad menimbulkan proses interaksi antara satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain.
*      Situasi sosial Baghdad yang bermacam suku, ras,dan etnis serta masing-masing kultur satu sama lain, mendorong adanya pemecahan masalah dari pendekatan intelektual.
A.   Cabang-cabang ilmu pengetahuan
Dalam dunia islam , secara umum ilmu pengetahuan dibagi dua macam, yaitu ilmu aqli dan naqli.Adapun ilmu naqli di bawah ini sebagai berikut;
a.    Ilmu Tafsir
Penafsiran Al-Qur’an terbagi menjadi dua cara; yakni pertama,tafsir bi al-Matsur, adalah metode menafsirkan al-qur’an dengan dalil Al-qur’an, Hadis nabi, pendapat para sahabat dan perkataan para tabiin yang menjelaskan maksud Allah swt dari nash-nash Al-qur’an.cara kedua, tafsir bi al-ra’yi adalah penafsiran ayat-ayat al-qur’an berdasarkan ijtihad penafsir dan menjadikan akal pikiran sebagai pendekatan utama.
b.    Ilmu Hadis
Hadis pada periode sebelumnya telah dikodifikasi, tetapi belum diadakan penyaringan, sehingga antara hadis nabi dan bukan hadis nabi terjadi percampuran. Berkenan dengan keutamaan hadis sebagai sumber hukum yang kedua setelah al-qur’an, maka ulama islam berusaha semaksimal mungkin untuk menyaring hadis-hadis Rasulullah untuk diterima sebagai sumber hukum. Penyaringan hadis diadakan dengan cara kritik terhadap sanad( jalur penyampaian hadis) maupun matan( isi hadis).
c.  Ilmu kalam
Kaum mu’tazilah berjasa dalam menciptakan ilmu kalam, karena mereka adalah gigih membela terhadap islam dari serangan yahudi, nasrani dan watsani. Menurut riwayat, mereka mengirim para juru dakwah ke segenap penjuru untuk menolak serangan musuh.
d.    Ilmu Tasawuf
Ilmu tasawuf yaitu salah satu ilmu tumbuh dan matang dalam zaman daulah Abbasiyah,ilmu tasawuf adalah ilmu syariat yang baru diciptakannya. Inti ajarannya; tekun beribadat dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, meninggalkan kesenangan dan perhiasan dunia dan bersunyi diri dalam beribadah.
e.    Etika
Etika ( akhlak) islam bersumber pada Al-qur’an dan Sunnah. Beberapa karya ilmiah telah dihasilkan dalam bidang ini. Paling tidak ada tiga corak penulisan; pertama, pelajaran akhlak berupa anekdot, pepatah dan kata-kata hikmah.kedua, adalah cerita-cerita, filsafat populer tentang moral yang diperoleh pada fabel, dan pepatah dari lukman serta untaian hikmah dari para sahabat yang dihimpun oleh al-Muwardi dalam buku “ Adab al-dunya wa al-din”. Ketiga, buku-buku yang bercorak filsafat akhlak,seperti yang ditulis oleh al-Ghazali dalam ihya ulum al-din
f.     Ilmu hukum
Dalam rangka memperluas ruang lingkup dan cakrawala pandangan hukum islam, para fuqaha yang lahir pada masa Abbasiyah digolongkan dua aliran yaitu ahli hadis dan ahli ra’yi. Ahli hadis mendasarkan pemikiran-pemikirannya pada hadis Rasulullah.sedangkan ahli Ra’yi mendasarkan pemikiran-pemikirannya hukumnya pada kemampuan akal pikiran. Di kufah, Basrah, dan Baghdad sedikit hadis nabi yang tersebar, karena itu lebih diutamakan ra’yi.
            Adapun perkembangan ilmu aqli pada masa bani Abbasiyah yaitu;
a)    Ilmu filsafat
Setelah kitab-kitab falsafah yunani diterjemahkan kedalam bahasa arab di zaman khalifah Harun al-Rasyid dan khalifah al-makmum, barulah kaum muslimin mempelajari ilmu filsafat bahkan menafsirkan dan mengadakan perubahan serta perbaikan sesuai dengan ajaran islam.
b)   Ilmu kedokteran
          perkembangan ilmu kedokteran sejalan dengan perkembangan ilmu filsafat. Mula-mula Al-Mansur mengundang seorang dokter kepala dari jundishapur kemudian berturut-turut mengundang dokter-dokter ternama dari syria, mesir, bizantium, dan india untuk berkumpul di Baghdad. Buku-buku yunani, iran, india, dan lain-lain diterjemahkan kedalam bahasa arab.
c)     Farmasi dan kimia
                 Ilmu farmasi dan kimia merupakan ilmu yang berhubungan dengan pembuatan obat-obatan. Kedua ilmu ini berhubungan dengan ilmu tumbuh-tumbuhan.
d)     Ilmu matematika
            Ilmu matematika adalah suatu cabang ilmu yang berkembang pesat dikalangan umat islam, karena hukum-hukum syariat tentang zakat dan waris menuntut perhitungan aritmatika.
            Salah satu matematikawan terkenal di Dunia islam adalah Muhammad bin musa al-Khawarizmi( 780-850 M), ia juga ahli Geografi terkemuka. Ia adalah pelopor angka nol dalam ilmu hitung. Metode perhitungannya kemudian dikenal dengan algoritme.
e)    Ilmu geografi
            Ilmuwan-ilmuwan muslim juga sangat memperhatikan bumi dan segala isinya. Ilmu tentang bumi pada zaman modern terbagi menjadi disiplin ilmu, geografi, geologi, geofisika dan meteorologi.
B.   Sistem pengembangan ilmu pengetahuan
Secara umum pengembangan ilmu pengetahuan dan filsafat ditempuh dengan beberapa tahap.pertama,kegiatan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dan filsafat dari bahasa yunani, persia dan romawi kedalam bahasa arab yang dilakukan oleh kaum muslimin secara terbuka dan bekerja sama dengan penterjemah dari agama yahudi dan nasrani.kedua, karya-karya ilmiah yang telah diterjemahkan diberi komentar oleh kaum muslimin dan diberikan persesuaian dengan agama. Tahap ketiga, hasil-hasil terjemahan tersebut dikoreksi. Teori-teori yang telah diberikan para ahli diberikan penjelasannya. Bahkan berkat kepekaan para pemikir islam, hasil koreksi terhadap teori-teori yang telah ada dapat memancing lahirnya teori baru sebagai hasil renungan mereka.
Secara khusus, adapun tiga tahap pula dalam penyusunan buku-buku yang bernilai ilmiah yaitu; tahap pertama, masih berbentuk lembaran-lembaran yang belum tersusun rapi. tahap kedua, karya para ulama yang sudah dibukukan bentuk penyusunan sederhana, tahap ketiga, karya para ulama sudah tersusun rapi menurut klasifikasi ilmu. Dalam tahapan inilah lahirnya karya-karya para ulama dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan filsafat yang tersusun rapi menurut kaedah-kaedah ilmu pengetahuan.
2.3 Lingkup masyarakat
       Aktivitas dakwah dalam lingkungan masyarakat adalah pengkajian ilmiah sangat marak dilakukan di Baghdad, karena masjid dan sekolah dipenuhi dengan kajian ilmiah dengan materi yang bervariasi, hal ini didukung dengan keberadaan ulama yang berperan besar pada masa tersebut. Para ulama berperan dalam pencerahan iman pada masyarakat dan materi yang paling menonjol adalah tazkiah al-Nufus.
A.   Lembaga-lembaga pendidikan
       Adapun didirikannya lembaga-lembaga pendidikan dalam lingkup masyarakat adalah sebagai berikut;
v  Kuttab yaitu lembaga pendidikan tingkat dasar sudah ada sejak zaman nabi.kuttab berdiri sejak abad 8 M, yang awalnya hanya mengajarkan ilmu agama sudah mengajarkan ilmu pengetahuan.
v  Halaqah adalah model pendidikan dimana seorang guru duduk dikelilingi oleh murid-muridnya. Menurut Harun Asrohah, halaqah merupakan lembaga pendidikan setingkat dengan college.
v  Masjid selain digunakan untuk tempat ibadah, juga digunakan untuk menuntut ilmu.misalnya masjid Al-Mashur di Baghdad memiliki 40 halaqah sehingga sangat ramai dikunjungi oleh penuntut ilmu.
v  Majelis munadharah, yaitu majelis tempat pertemuan para ulama sarjana, ahli pikir dan pujangga untuk membahas masalah-masalah ilmiah.
v  Baitul hikmah, yang didirikan oleh Harun al-Rasyid dan kemudian disempurnakan oleh khalifah makmum. Baitul hikmah adalah perpustakaan terbesar , yang juga disediakan ruangan-ruangan tempat belajar dan dilengkapi dengan observatorium.
v  Madrasah nidhamul muluk, yang didirikan oleh perdana menteri Nizham al-Mulk , adalah orang yang mula-mula mendirikan madrasah dalam bentuk yang ada sampai sekarang ini “ Madrasah”.
BAB III  
Penutup
3.1 Kesimpulan
                        Jadi, dapat disimpulkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan pada masa bani abbasiyah mengakibatkan dakwah semakin berkembang. Itu karena lahirnya para ilmuwan muslim dari perkembangan ilmu pengetahuan membantu eksistensi agama islam khususnya dakwah itu sendiri.
3.2 Saran
                        Saran penulis adalah kita sebagai umat muslim dalam rangka mengembangkan dakwah alangkah baiknya kita terlebih dahulu menuntut ilmu karena orang yang berilmu merupakan karakteristik ideal yang harus dimiliki oleh seorang da’i dan allah sangat menyukai orang yang berilmu.
Daftar Pustaka
Sj, Fadil, pasang surut peradaban islam dalam lintasan sejarah.2008.Malang; UIN Malang press
Yatim, Badri, sejarah peradaban islam dirasah islamiyah II.1993.Jakarta; PT Raja grafindo persada
Sumber internet;
Google.com

Rabu, 06 November 2013

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ; ASPEK KONSEPTUAL , PERSEPTUAL DAN EGOSENTRIS



BAB II
PEMBAHASAN
A.   Perkembangan Konseptual
    Masa Konseptual Anak Pada Tahun Pertama Masih Membentuk Kausal, yaitu Melihat sesuatu Benda dengan Keseluruhannya dan Melihat Sesuatu Secara Global. Pandangannya Masih Belum Mampu untuk melihat secara Bagian-Bagiannya, Secara Terperinci, Karena Penglihatannya Terhadap Benda Belum Mampu Melihat Secara Khusus. Pandangannya Masih Terpusat Pada Dirinya dan Ketidakmengertian terhadap Benda Tersebut. Semua Informasi yang ditanggap akan Diterima secara Langsung tanpa adanya diferensiasi, Analisis dan Tanggapan yang disesuaikan dengan dirinya.
    Kesan Pertama Itulah Yang Akan Menjadikan anak terhadap Sesuatu Seperti Contoh Warna diatas, Karena Pada Masa ini anak Masih dalam Keadaan yang Kosong, Dalam Arti ia tidak Mengetahui dan Mengerti Apa-apa. Oleh Karena Itu Segala sesuatu yang Pertama kali itulah yang dikenalnya, Belum masuk sebagai Pengertian. Pandangannya Terhadap Sesuatu Benda yang Mempunyai Bagian-bagian atau Terstruktur, Akan diperhatikan dan Diamatinya secara Keseluruhan. Misalnya jika anak diperkenalkan sebuah gambar rumah dengan bagian-bagiannya, pintu, jendela, kaca dan lain sebagainya. Apabila ditunjuk salah satu bagian tersebut adalah rumah itulah pengertian anak. Karena yang diperhatiakan dan menjadi pengamatan anak adalah rumah yang telah diperkenalkannya dan apabila salah satu bagian tersebut dipisah dari rumah, di jendela itu ada bagian-bagian lain, seperti kunci atau lainnya,  meskipun ditunjuk salah satu bagian tersebut maka anak akan mengatakannya jendela.
    Demikian pula halnya apabila anak diberikan kalimat yang terperinci, pada saat itu anak tidak memahami dan mengerti, diminta untuk mengerti, maka ia akan merasa bingung dan tidak jelas, bisa membaca tetapi tidak mengerti apa yang dibacakannya. Karena pada masa ini anak membutuhkan pengenalan bukan pengertian. Pengertian yang dipaksakan saat anak belum mengenal, maka dengan sendirinya anak akan merasa beban menerima semua yang dilihat dan didengarnya. Semua informasi yang diterima tanpa menggunakan kemampuan untuk mengasimilasi dalam penyesuaian dirinya, maka informasi yang masuk dan diterima anak akan berbentuk;
v  Global ; Penerimaan informasi anak secara keseluruhan, tanpa memperhatikan bagian-bagian dari informasi tersebut
v  Langsung ; Semua informasi yang dilihat, didengar, dan dirasakan akan diterima secara langsung, yang kemudian secara langsung pula ia mengikutinya.
v  Pasif ; Penerimaan informasi anak pada masa ini sifat pasif, karena belum adanya tanggapan yang berarti
v  Spontanitas ; Perilaku anak menunjukkan spontan dalam menanggapi segala yang berhubungan dengan dirinya atau lingkungannya. Belum terlihat kontrol perilaku dan bahasa.
    Proses pembentukan pengertian pada anak akan dilakukan dengan berbagai macam kemampuan sesuai dengan usia mereka yang masih pasif, menerima dan menunggu apa yang diberikan, selanjutnya mulai menggunakan kemampuannya dan fungsi-fungsinya yaitu dibawah ini sebagai berikut;
Pengalaman belajar
    Yaitu segala sesuatu yang dialami dan dirasakan anak sebagai suatu penagalaman yang menyenangkan  dan tidak menyenangkan. Pengalaman ini diperoleh dari luar individu dan diterima ke dalam individu untuk diasimilasikan ke dalam bentuk aktivitas.
    Pengalaman individu yang diperoleh sejak dini merupakan hal yang penting dan bermanfaat untuk perkembangan selanjutnya. Pengalaman yang merupakan proses pembelajaran yang diterima sebagai pengertian, kemudian anak akan membentuk sikap,  yaitu dengan menerima atau menolak segala sesuatu yang dialaminya. Proses pengalaman dibagi menjadi tiga macam, yaitu Pengalaman yang dilakukan sendiri, Pengalaman yang dialami dari luar dirinya, dan pengalaman trial.
Pengulangan
    Adalah di masa anak berusaha mencapai suatu kepuasan dan kenikmatan atas perbuatannya. Hal itu terlihat dari kecenderungan seorang anak yang senantiasa mengulang-ngulang tingkah laku. Pengulangan terjadi karena dalam perbuatan tersebut terdapat suatu kenikmatan, kepuasan, dan menyenangkan.
    Adanya kenikmatan dan menyenangkan terhadap perbuatan tersebut, menyebabkan anak mempunyai dasar pengulangan. Pengulangan dibagi dalam tiga fungsi, yaitu; ( 1) Terjadinya pengulangan atas unsur diri ( usia 4 – 10 bulan), misalnya memainkan jarinya, membuang benda yang dipegang. ( 2) Pengulangan karena adanya unsur luar dirinya ( Usia 10 – 24 Bulan). Saat ini anak mencoba mengeksplor dan memanipulasi objek-objek baru disekitarnya dan dilakukannya dengan pengulangan. Misalkan menyembunyikan suatu benda jika telah diketahui oleh orang lain ( menutup matanya kemuian membukanya lagi). ( 3) Pengulangan terjadi bukan lagi suatu kebetulan melainkan rekayasa anak dengan menggunakan imajinasi. Ini biasa terjadi pada usia 2 tahun – 4 tahun. Saat ini anak mulai menggunakan imajinasinya untuk memainkan suatu objek dengan semua informasi yang diperolehnya. Misalnya anak suka mengamati sebuah film maka mereka mencoba dengan menggunakan objek yang lain dengan imajinasi untuk memainkan film kartun.
Peniruan ( Imitasi)
    Merupakan dimana masa anak mulai mengamati, memperhatikan, dan mendengar apa yang diperbuat orang lain , baik tingkah laku ataupun ucapan. Anak biasanya mengikuti persis apa yang dilihat atau didengarnya. Proses imitasi merupakan salah satu tahap perkembangan konseptual terjadi dimana anak sebelumnya tidak mengerti, dan setelah melakukan imitasi, apa yang dilakukannya itu menyenangkan atau tidak menyenangkan, mendapat respon positif ataupun negatif.
Perhatian
    Yaitu pada awal perkembangan anak perhatian hanya terarah pada dirinya sendiri, maksudnya segala sesuatu yang dilihat dan didengarnya akan diarahkan atau ditunjukkan hanya pada dirinya. Misalkan ada orang membawa suatu benda, maka anak akan biasanya tidak melihat siapa yang membawa benda tersebut tetapi bendanya. Jadi pusat perhatian anak pada usia awal tertentu hanya terbetas pada satu objek yang menjadi perhatian dan menarik, sedangkan objek yang lainnya belum mendapatkan perhatian. Anak melihat dan memperhatikan objek baru karena objek sebelumnya tidak lagi menarik. Perhatian anak hanya terpusat pada satu objek saja dan belum mengarah pada kegunaan dan arti objek tersebut.
Eksplorasi secara Individual
    Artinya dengan berkembangnya usia, maka anak mulai mengembangkan aktivitas lainnya, yaitu dari pusat perhatian ada rasa ingin menyentuh atau meraih objek yang menjadi pusat perhatiannya, yang disesuaikan dengan berkembangnya kemampuan saraf dan otot yang tumbuh besar dan menguat. Dengan kemampuan tersebut anak berusaha untuk menjelajahi segala sesuatu yang menjadi perhatiannya. Hal ini juga disesuaikan dengan kemampuan anak yang mulai mahir merangkak atau mulai berjalan.
    Rasa keingintahuan anak juga mulai berkembang dengan mencoba mencari sesuatu benda yang hilang yang menjadi pusat perhatiannya, dalam hal ini dapat dilihat pada permanensi objek. Rasa keingintahuan dimulai dari usia 0 -2 tahun samapai 4 tahun , yang mencoba untuk memegang dan mengambil suatu benda yang menjadi perhatian dan baru yang belum pernah dirasakan atau disentuh.
    Perkembangan selanjutnya pada masa konseptual akhir akan menunjukkan suatu bentuk eksplolarasi penolakan, yaitu anak berusaha untuk menolak keinginan orang lain terhadap dirinya yang berupa, pembangkaka, peniruan, protes dan lain sebagainya.
B.   Perkembangan Perseptual
    Perkembangan Perseptual Anak dimulai dengan meningkatnya Tanggapan terhadap Informasi Baru yang kemudian diasosiasikan dengan pengalaman yang Pernah didapat pada Masa Konseptual. Dengan Asosiasi ini anak Mulai Berusaha Menanggapi Semua yang menjadi Pusat Perhatiaanya. Yang Berupa Pertanyaan yang timbul dari Rasa Keingintahuan , Protes dari Penolakan, Serta Sifat Ketergantungan pada Orang lain atau Benda.
    Persepsi atau tanggapan yang terjadi karena adanya perhatian, pengalaman imitasi, kebutuhan dan keinginan, senang dan tidak senang yang diterima sejak masa konseptual. Tahap ini seperti yang dijelaskan oleh piaget terjadi pada praoperasional, dimana anak mulai menggunakan kognitifnya, baru mencoba merealisasikan segala sesuatu yang diperoleh dari tahapan sensori-motorik. Anak pada masa ini tidak menerima segala sesuatu secara langsung, melainkan berusaha untuk menunggu sesaat dan kemudian mulai menerimanya, ia dapat menimbulkan situasi-situasi yang tidak langsung ada. Biasa juga disebut dengan kemampuan untuk melakukan tingkah laku simbolik, yaitu diawali dengan berpura-pura terlebih dahulu.
    Pada masa perseptual ini segala informasi yang diperoleh pada masa konseptual, kemudian dirangsang untuk mencoba menanggapinya tanpa harus terlibat langsung ke dalam persoalan itu, atau masalah yang baru ditanggapinya. Dengan kata lain anak tidak mampu mengambil perspektif orang lain ( Belum mengerti sudut pandang orang lain). Misalkan anak diminta memperhatikan tiga warna, Merah, hijau, dan kuning dari sudut pandang orang lain, namun anak tetap melihatnya sesuai dengan pandang mereka, yakni melihat warna, Kuning , hijau, dan merah.
    Masa perseptual ini ditandai dengan sebutan ; 1) Semaunya sendiri ( Mengerjakan sesuatu tidak sesuai dengan kehendak orang tua, (2) masa Negativisme ( Anggapan bahwa anak sering melakukan sesuatu yang bertentang dengan kebiasaan-kebiasaan), ( 3) masa bermain ( anak dan bermain tidak dapat dipisahkan), (4) masa prasekolah ( Usia anak sudah memasuki usia sekolah), masa kelompok (Anak sudah dapat membedakan benda yang miliknya dan milik orang lain), ( 6) masa keingintahuan ( Anak senang bertanya, menjelajah, membayangkan, dan membandingkan).
C.   Egosentrisme
    Egosentris adalah Pemusatan Pada Diri-sendiri, Memandang segalanya pada diri-sendiri, merasakan sesuatu untuk dirinya Sendiri. Rasa Egosentris yang Timbul pada Individu dikarenakan adanya Rasa Keingintahuan terhadap sesuatu yang dipandang, yang diamati, dirasakan dan dipikirkan hanya diarahkan pada dirinya saja. Tidak menempatkan dirinya pada orang lain.
    Egosentrisme tidak sama dengan Egois. Egois merupakan suatu sikap yang menunjukkan Ketamakan, Kepentingan, dan Kemauan yang berlebihan terhadap Hak Orang lain terhadap Dirinya. Ketamakan dapat dilihat misalkan pada Anak yang ingin menguasai semuanya Walaupun itu Bukan Miliknya dan Bahkan Merusak. Egois Sebagai Salah Satu Sifat Mausia sangat merugikan terutama dirinya sendiri.
    Egosentris juga berlawanan dengan Desentrasi, yaitu Individu mengadakan, melihat, dan mengamati objek dengan benda-benda. Dengan kata lain anak sudah dapat membedakan dalam pengamatannya dengan berbagai sudut, baik dengan menggunakan persepsi maupun pengamatan dan perilaku individu itu sendiri.
    Jadi, Egosentris menimbulkan perasaan ingin tahu sesuatu yang sifatnya baru dan menarik bagi anak itu sendiri, atau biasa sering melihat suatu benda yang ada di Sekitarnya. Ia tidak menghiraukan, namun suatu saat ketika ia melihat benda yang sama, pada tempat yang sama, bersamaan dengan rasa keingintahuannya, kemudian berusaha untuk menghampiri, meraba atau memegangnya. Rasa keingintahuannya ini yang disebut Egosentris.
1. Egosentris terhadap Benda
    Egosentris ini terjadi pada usia 0-4 tahun, pada masa ini perhatian anak tertuju pada sesuatu yang baru. setiap kali melihat benda atau sesuatu yang baru dan menarik, maka pada saat itu rasa keingintahuan anak mulai muncul, dimana anak hanya sekadar ingin mengetahui dan merasakan saja.
    Sifat keingintahuan terhadap benda tersebut mempunyai sifat sementara, setelah mengetahui dan merasakan maka anak akan meninggalkannya, kemudian beralih kepada benda yang lain yang lebih menarik dan yang baru dilihatnya, atau benda tersebut membuat rasa penasaran meskipun sudah pernah dilihatnya.
    Sesuai dengan tahapan perkembangan anak, usia pada saat itu termasuk dalam konseptual, dimana rasa egosentris tertuju hanya pada suatu benda yang diamati, untuk dikenal dan mengerti terhadap benda tersebut. Anak belum mengerti kepunyaan siapa benda itu dan bagaimana benda tersebut. Jadi apabila ada anak yang mengambil barang milik orang lain, itu karena ia tidak mengetahui bahwa barang yang diambilnya itu milik orang. Hasil observasi terhadap anak yang berusia 18 – 24 bulan menunjukkan bahwa;
1.    Egosentris muncul saat anak melihat suatu benda yang baru dan belum dikenal dalam pengertiannya
2.    Egosentris ini tercapai saat anak mempunyai kesempatan untuk mengenal dan memegang beda yang dilihat dan belum dikenalnya
3.    Anak akan meninggalkan benda yang dikenalnya bila benda tersebut tidak dapat dieksplolarisasi
4.    Rasa egosentris bertambah besar saat benda yang diinginkan tidak dapat diraihnya atau ada sesuatu yang menghambatnya.
    Egosentris berubah menjadi egois saat anak sudah kehilangan rasa keingintahuan dan memunculkan rasa takut kehilangan terhadap benda yang menjadi pengamatannya.
    Egosentris benda terhambat dikarenakan rasa ketakutan atau banyak larangan terhadap anak yang baru muncul rasa keingintahuan, sering disalahkan dalam memegang dan memainkan sesuatu, dan hal ini memunculkan perilaku;
·         Suka mengganggu teman-temannya dengan mencubit, memukul, dan mendorong
·         Suka merebut benda temannya atau mengambil makanan temannya, mengumpat dan merusak mainan dan benda orang lain
·         Tidak mempunyai keinginan melakukan aktivitas atas anjuran atau suruhan orang lain
·         Perhatian terpecah , sukar untuk konsentrasi dan cepat lelah dalam melakukan aktivitas
·         Aktivitasnya berlebihan dan motorik kasarnya yang lebih dominan daripada motorik halusnya, sehingga anak terhambat dalam menulis. Sementara anak yang terpusatkan rasa keingintahuannya atau egosentrisnya mempunyai kesempatan untuk menuangkan rasa keingintahuannya, maka anak siap untuk melanjutkan perkembangan berikutnya.
2. Egosentris Perhatian
    Egosentris perhatian terjadi pada anak usia 4 – 8 tahun, dimana pada masa ini anak sudah mulai melihat orang lain sebagai objek yang dapat memberikan sesuatu kepadanya. Pada usia ini anak sudah mampu mendifferensiasi terhadap benda maupun objek pengamatannya. Anak berusaha mengambil perhatian orang lain untuk dirinya, atau meminta orang lain untuk memperhatikan dirinya dan ia akan memperhatikan orang lain sebagai cara untuk menunjukkan dirinya.
    Rasa egosentris pada usia ini sesuai dengan tahapan anak pada perseptual dan kongkritual, saat ini anak berusaha untuk mendapatkan perhatian dari orang lain yang lebih dan menjadi pusat perhatian. Rasa perhatian ditunjukkan melalui tingkah laku yang membuat orang lain memperhatikan ( membuat orang ketawa, kesal dan marah)
    Pada usia selanjutnya perkembangan egosentris, yakni anak berusaha menunjukkan perhatiannya dengan melakukan berbagai aktivitas agar dapat diperhatikan oleh orang lain. Egosentris anak tidak lagi sebatas sementara melainkan menjadi penanaman kepercayaaan dan keyakinan untuk melakukan aktivitasnya sendiri sesuai dengan kemampuan dan potensinya.
    Egosentris pada saat ini akan terlihat pada ;
1)    Psikognitif, yaitu bahasa yang diucapkan dan kata-kata yang disampaikan sudah berusaha untuk dimengerti oleh orang lain dan berusaha untuk mengerti apa yang dibicarakan orang lain.
2)    Psikoafektif, yaitu anak memberikan dan menuruti sesuatu apapun yang diminta orang lain dari dirinya dengan mengharapkan sesuatu dari orang lain untuk dirinya
3)    Psikomotorik, dimana pada masa ini anak akan banyak beraktivitas di hadapan orang lain ( Bertingkah yang mengundang perhatian orang lain), misalkan anak akan bermain atau melakukan aktivitas apa saja yang akan menarik perhatian, jika ada orang dewasa atau orang yang lebih besar, maka ia akan menunjukkan aktivitasnya atau lebih aktif lagi bermain.
3. Egosentris Penampilan
   Egosentris pada saat ini berada pada usia tujuh sampai akil baligh. Perkembangan egosentris anak adalah anak ingin diakui keberadaannya, anak sudah merasakan dan dapat berfikir bahwa ia bagian dari keluarga, dan bagian dari teman-temannya. Pada usia ini anak sudah mulai mengerti dan dapat memahami apa yang dilakukan orang lain pada dirinya dan apa yang diperbuat pada lingkungannya. Misalkan orang tua membicarakan sesuatu persoalan dan mereka tidak diikutkan, maka mereka akan merasa disisihkan dengan menunjukkan wajah yang tidak menyenangkan atau melakukan sesuatu yang menjadi perhatian orang lain terhadap dirinya. Pada egosentris ini anak membutuhkan suatu penerimaan dirinya dari lingkungan, baik dari orang tua maupun dari teman sebaya. Agar dapat diterima anak sering menunjukkan sesuatu, baik perilaku tertentu yang membuat orang lain memusatkan perhatian, maupun sikap yang disukai baik orang tua maupun teman. Agar dapat diterima anak sering menunjukkan sesuatu, baik perilaku tertentu yang membuat orang lain memusatkan perhatian, maupun sikap yang disukai baik orang tua maupun teman.
    Perilaku lain pada egosentris ini adalah melakukan protes atas perlakuan orang lain terhadap dirinya, yakni dengan cara mendiamkan, meninggalkan, atau masa bodoh ( seakan-akan tidak tahu/ mendengar) terhadap perintah atau interfensi orang lain atas perilakunya. Kompromi juga merupakan sikap dan perilaku pada egosentris ini, misalnya anak menunjukkan kemampuannya agar dapat diterima sebagai bagian dari lingkungan, dan bahkan mengikuti aturan dan perintah orang dewasa atau orang tua

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
    Jadi, dalam suatu proses perkembangan terdapat adanya beberapa aspek – Aspek pada perkembangan manusia, yaitu sebagian diantaranya adalah aspek Konseptual, aspek Perseptual, dan Aspek Egosentris. Aspek konseptual menyangkut pemahamnnya terhadap objek-objek, aspek perseptual, menyangkut objek yang dilihatnya sudah mampu ditanggapinya dengan cara mengasosiasikan pengalaman sebalumnya, dan Aspek perkembangan egosentris adalah  Timbulnya rasa keingintahuan anak terhadap objek yang menarik perhatiannya.
B. Saran
    Sebagai manusia biasa, kami menyadari kekurangsempurnaan dalam penyusunan makalah ini, maka dari itu dengan lapang dada kami menerima segala kritikan dan sarannya demi perbaikan Sistematika penulisan makalah.
DAFTAR PUSTAKA
            Machmud , Hadi. Psikologi perkembangan. CV Shandra. Kendari. 2010

Selasa, 05 November 2013

Cara Service Epson C90, T11, T20 Bunyi Keras

Bahasan kang Eko kali ini adalah printer epson dari c90, T11, T20 dll yang setype dengan kerusakan bunyi keras dan kadang tidak mau narik kertas. Mari kita belajar bersama ....

Indikasi Kerusakan :
Ketika printer epson C90, T11, T20 dinyalakan, kelihatannya normal. Tapi ketika dipakai untuk ngeprint baru ketahuan kalau ada bunyi keras banget seperti gear yang kesangkut sesuatu dan kertas tidak mau narik. Kalaupun narik kertas, pasti kertasnya miring. Kadang kalau lebih parah ketika printer epson dinyalakan langsung blink. disertai bunyi keras. Grreeeeekkkk..........

Cara Service Epson C90, T11, T20 Bunyi Keras :

1. Bongkar printer Epson C90, T11, T20...

2. Lihat bagian ASFnya (penarik kertas).

3. Setelah diamati ternyata ada AS gear yang patah sehingga menyebabkan putaran gear tidak sempurna. Akibatnya gear macet dan printer ngeblink.




4. Kalau bisa anda akali dengan mengganti ASnya di akali aja. Ingin tahu cara kang Eko baca DI SINI

5. Kalau sudah nggak bisa diakali, mending diganti 1 set ASFnya.

Bagian AS di ASF ini memang sering banget patah / rusak, karena bahannya terbuat dari plastik, apalagi kalau frekuensi pemakaian tinggi, tentunya akan cepat panas dan menyebabkan plastik mudah patah / rusak.

OK demikian ulasan tentang printer Epson C90, T11, T20 yang bunyi keras dan blink dan juga tidak bisa narik kertas. Mungkin ini tidak hanya untuk printer C90, T11, T20, tapi bisa terjadi di printer Epson lainnya karena biasanya desainnya hampir sama.

OK selamat mencoba ......

RESET EPSON C43, C58, C67, C87, R210, R230, R300


RESET EPSON C43, C58, C67, C87, R210, R230, R300

Printer adalah perangkat penting bagi para pengguna komputer. Hasil ketikan atau hasil editing gambar seringkali lantas kita cetak (print) untuk melihat hasilnya. Beberapa jenis printer dengan alasan menghemat dana akhirnya mengalami modifikasi.

Beberapa macam alat bantu modifikasi begitu mudah didapatkan di pasaran, bahkan para distributor printerpun nampaknya telah begitu memahami fenomena ini, sehingga mereka seolah membiarkan dan bahkan beberapa toko “turut menganjurkan” calon pembeli untuk memodifikasi printernya agar jualannya laku. Terbukti strategi tersebut cukup jitu menarik minat para pembeli.

Sebagai contoh, alat bantu modifikasi bagi printer Epson telah dilengkapi dengan resetter chip hingga pengguna ga perlu lagi menggunakan resetter khusus karena cartrige aslinya sudah langsung diganti dengan cartrige modifikasi yang sudah auto reset. Disini nampaknya masalah sudah tuntas, tapi tunggu beberapa minggu atau beberapa bulan, printer akan mengalami “blinking” (lampu indikator berkedip terus). Jangan kuatir, blinking tersebut disebabkan karena “waste ink counter” atau “Protection Counter” pada printer telah mencapai angka maksimal. Hal ini menunjukkan bahwa tangki pembuangan tinta yang berada di bagian bawah printer telah penuh dan harus dibersihkan. Hal ini untuk menjaga agar luapan tinta pembuangan tidak mengenai mainboard printer yang kemudian dikhawatirkan dapat mengakibatkan kerusakan fatal pada printer, untuk itu proses printing dihentikan oleh sistem secara otomatis. Hal itu disebabkan karena printer secara berkala melakukan head cleaning agar agar pori-pori head printer tetap terjaga dari kemungkinan buntu atau tersumbat oleh endapan tinta.

Oleh karena itu, teman-teman masih membutuhkan lagi Resetter khusus untuk mengatasi masalah tersebut. Sebelum menginstallnya sangat dianjurkan membersihkan dulu tangki pembuangan tinta dan menjemur busa yang ada di dalamnya agar dapat menyerap tinta pembuangan berikutnya. Kalau ga mau repot, tarik saja selang pembuangannya keluar printer dan tampunglah tinta yang terbuang dengan sebuah botol kosong yang ditempelkan di badan printer agar tidak tumpah.

Cara reset printer Epson R230 (bisa digunakan untuk Epson C43, C58, c67, c87, R210, R230, R300, dll) :

1. Langkah pertama tentunya printer harus sudah terinstall drivernya. Untuk Download drivernya klik download driver epson .

2. dOwnlOad sOftwarenya resetnya dulu. Software bernama sscserve dan bisa kamu dOwnlOad di sini
Setelah kamu dOwnlOad trus kamu install. Sebelumnya Hidupkan printer. Setelah di install akan muncul window.

- Pada Installed Printer : pilih sesuai dengan printer anda.
- Pada Printer Model : pilih sesuai dengan printer anda.
- Kemudian close window dengan klik tanda silang di pojok.

(Gambar seperti di bawah ini) : klik gambar untuk memperbesar.


2. Kemudian pada icon sscserve sebelah kanan bawah kamu klik kanan, maka akan tampil menu sscserve (seperti di bawah ini):


Setelah tampilan muncul, kemudian pilih Protection Counter, dan kamu klik Reset Protection Counter. Kemudian matikan printer dan hidupkan kembali.

Maka masalah pun akan hilang dan printer kembali normal. Dan andapun bisa tersenyum lega ... huhehehhehheeh. Nggak usah jauh² ke tOkO tempat beli ntuh printer. Karena hanya beberapa menit aja masalah dah terselesaikan dan tanpa harus keluar uang untuk biaya reset.

Buat kalian² selamat mencoba ... !!! DAN jangan lupa tinggalkan pesan yang baik di blogku ini.....

ANAK dalam Al Qur’an

Dalam sebuah keluarga, maka memiliki anak, adalah kebahagiaan yang sangat diharapkan. Berbagai usaha dilakukan agar hadir sang permata diantara keduanya. meskipun sejatinya, anak bukanlah satu-satunya parameter kebahagiaan orang tuanya. Kebahagiaan sejati akan muncul bila ortu berhasil menjadikan anak-anaknya sebagai penyejuk hati yang senantiasa menghadirkan kebaikan, fiddun-ya hasanah dan fil akhiroti hasanah.
Al Qur’an menyebutkan bahwa anak bisa memiliki empat posisi bila disandingkan dengan orang tunya:
1. Anak menjadi fitnah (QS 8: 28 dan QS 64 : 15)
“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan keluargamu hanyalah sebagai cobaan dan disisi Allahlah pahala yang besar.”
Pada asalnya anak memang menjadi ujian bagi orangtuanya, -sebagaimana juga harta-, bahwa semua itu bisa menghasilkan kebaikan bila mampu mengelola mereka dengan benar dan baik dan sebaliknya ia akan menjadi musuh dan merusak bila orang tua salah mendidiknya. Barangkali anak-anak nabi Yakkubyang telah mencelakakan Yusuf, masuk dalam posisi ini. Mereka membuat ortunya sedih dengan perilakunya, meski tidak sampai pada derajat permusuhan, tetapi sungguh sikap mereka membuat kesusahan berkepanjangan bagi ayahnya.
2. Anak menjadi musuh (QS 64 : 14)
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmua ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah atas mereka…”
Tugas ortu mendidik anak adalah menyiapkan mereka sampai mereka baligh. Ada kalanya ortu sudah sedemikian bagus menyiapkan pendidikan dan lingkungan yang baik bagi anak, tetapi si anak tetap tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya. Besar kemungkinan anak akan menjadi musuh bagi orangtuanya yang beriman. Sebagaimana anak Nuh a.s, yang senantiasa menolak kebenaran yang dibawa ayahnya, karena memperturutkan nafsunya.
3. Anak menjadi perhiasan bagi keluarga (QS. 18 : 46)
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan dunia…”
Anak menjadi perhiasan bagi keluarga bila ia menjadi obyek yang menyenangkan hati, membanggakan, menjadi kebanggaan bagi keluarganya. Kebanggaan yang hanya bersifat duniawi saja bagaikan perhiasan yang ditempelkan pada badan sang ortu. ia berguna dan menakjubkan di dunia, tapi belum menjadikannya bermanfaat di akhirat.
4. Anak menjadi penyejuk hati (25: 74)
Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami anugerahkan kepada kami istri-istri dan anak-anak kami yang menjadi penyejuk hati….
Dalam menjelaskan qurrota a’yun ini, mufassir berpendapat bahwa mereka adalah anak-anak yang mampu beramal shalih dan dengan amal-amal shalihnya itulah maka mereka menjadi penyejuk hati bagi orangtuanya. Ia menjadi perhiasan membanggakan di dunia, sekaligus penolong saat ortu di akhirat. Merekalah anak-anak salih, yang siap menyejukkan ortunya saat di dunia serta mendoakan mereka saat ortunya telah tiada.
Inilah posisi terbaik seorang anak berkait dengan ortunya. Inilah pe er terbesar bagi orang tua. Yaitu agar berhasil mewujudkan qurrota a’yun dalam dirinya dan anak-anaknya. Semoga Allah permudah kita mendidik anak menuju qurrota a’yun. Amiin.