This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 29 Desember 2013

Artikel Pancasila dengan Globalisasi

Artikel Pancasila dengan Globalisasi
1. Globalisasi
McLuhan yang merupakan seorang pemikir komunikasi pada tahun 1964 telah melontarkan konsepnya mengenai The Global Village, namun konsep globalisasi baru masuk kajian dunia universitas pada tahun 80-an sebagai suatu pengertian sosiologi yang dicetuskan oleh Roland Roberston dari University of Pittsburgh, meskipun secara umum globalisai dianggap sebagai suatu pengertian ekonomi (Tilaar, 1997:15).
Tabb (2001:10) mengatakan bahwa definisi globalisasi merupakan sebuah kategori luas yang mencakup banyak aspek dan makna. Selanjutnya dia mengatakan bahwa:
“Istilah tersebut berarti sebuah proses saling keterhubungan antar negara dan masyarakat. Ini adalah gambaran bagaimana kejadian dan kegiatan di satu bagian dunia memiliki akibat signifikan bagi masyarakat dan komunitas di bagian dunia lainnya…. Ini bukan saja soal ekonomi tapi bahkan meningkatnya saling ketergantungan sosial dan budaya dari desa global yang minum Coke dan menonton Disney”

Pancasila dengan GlobalisasiMalcom Waters dalam bukunya Globalization, membuat beberapa kemungkinan mengenai proses mulainya globalisasi. Pertama, globalisasi muncul sejak manusia hidup di bumi ini; kedua, globalisasi lahir sejalan modernisasi yang dimulai dikenal peradaban Barat yang sejalan dengan perkembangan kapitalisme, ketika, globalisasi merupakan fenomena baru yang berkaitan dengan pascaindustri, pascamodern atau disorganisasi kapitalisme. (Tilaar, 1997:16).
Proses globalisasi mempengaruhi pada hampir keseluruhan arena kehidupan manusia. Tetapi pada umumnya meliputi arena ekonomi, politik, dan budaya. Pada arena ekonomi mempengaruhi dimensi perdagangan, produksi, investasi, ideologi organisasi, pasar uang, dan pasar kerja. Pada arena politik mempengaruhi kedaulatan negara, fokus pemecahan masalah, organisasi internasional, hubungan internasional, dan politik budaya. Pada arena budaya mempengaruhi dimensi lanskap kepercayaan (sacriscape), lanskap etnik (etnoscape), lanskap ekonomi (econoscape), dan lanskap persantaian (leisurescape).
Pandangan Marxian menganggap arena ekonomiah yang menentukan, sedangkan pandangan Parsonian menganggap arena budaya yang menentukan, sedangkan arena lainnya mengikuti. Tabb (Tilaar, 2001:14) berpandangan bukan hanya pada arena itu saja yang dipengaruhi globalisasi melainkan baik atau buruk. Bagi mereka yang diuntungkan cenderung menyukainya dan tidak menghendaki campur tangan pemerintah. Sementara yang berfikir bahwa mereka dirugikan atau takut akan kehancuran dan mahalnya ongkos sosial globalisasi akan usaha penyebaran keuntungan secara lebih fair . Tabb mengatakan bahwa untuk menilai globalisasi, perlu dipertimbangkan norma-norma kultural yang dihasilkan oleh proses globalisasi kontemporer. Masalah globalisasi bukan melulu eksploitasi atau pekerja dunia ketiga atau kerusakan lingkungan, tetapi juga proses dehumanisasi. Globalisasi pada bidang ekonomi melahirkan negara-negara industri raksasa dan korporasi perdagangan raksasa, di sisi lain memarjinalkan negara-negara miskin. Globalisasi dalam bidang politik mengakibatkan semakin berkurangnnya kekuasaan negara karena perkembangan ekonomi dan budaya global. Globalisasi budaya menyebabkan dunia dewasa ini dalam keadaan kacau (chaos).
Berkaitan dengan globalisasi terhadap konsep etnis dan bangsa ada hal yang menarik terjadi dalam proses tersebut, yang oleh Naisbitt (Tilaar, 2001) disebut sebagai paradoks, yang menimbulkan efek diferensiasi dan sekaligus homogenisasi. Efek diferensiasi terlihat pada runtuhnya negara Uni Soviet akibatnya munculnya sub budaya etnis (etnosentrisme). Negara yang dulunya terdiri dari pelbagai jenis etnis kini terurai ke dalam negara-negara kecil akibat munculnya nilai-nilai budaya etnis. Masalah semacam itu disadari benar oleh para founding fathers negara kita, sehingga memilih semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan pengakuan terhadap nilai-nilai sub budaya yang dari bangsa Indonesia yang bhinneka (berbeda-beda) namun keseluruhannya diikat oleh satu cita-cita untuk menciptakan budaya nasional yang diterima sebagai puncak budaya etnis. Efek homogenisasi terjadi terutama karena pengaruh komunikasi yang semakin intens. Televisi telah menjadikan dunia terasa sempit dan cita rasa manusia seolah diseragamkan. Tapi pada sisi lain pengaruh komukasi juga menyebabkan negara-bangsa (nation-state) yang homogen berubah ke arah suatu multikulturalisme. Pusat kekuasaan bisa beralih ke pinggiran, sedangkan budaya yang dulunya di pingiran (periphery) bisa berpindah ke pusat.
Paradoks lain yang dimunculkan oleh globalisasi adalah munculnya kesenjangan yang semakin besar antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang. Di sisi lain kesenjangan itu juga terjadi di dalam negara-negara terebut, yaitu antara masyarakat kaya dan miskin. Kemiskinan menjadi masalah pokok yang harus diatasi oleh dunia, sebagaimana keputusan G-7 dalam pertemuan mereka di Lyon pada akhir Juni 1996 yang menyatakan bahwa:
“Globalisation (global economy) is source of rising living standard reaping the gains from trade, internasional investment, and tecnological progress. For this purpose, developing countries should make adjustment to increased competition and special efforts to eliminate inequality”.
2. Pengaruh Globalisasi
Globalisasi yang menimbulkan krisis multidimensional telah mampengaruhi perkembangan kepribadian manusia berupa krisis identitas dalam diri individu, kelompok dan masyarakat termasuk di dalamnya kader . Untuk mengatasi persoalan tersebut maka diperlukan upaya-upaya pembinaan kepribadian kader yang merupakan pemberdayaan diri dalam menghadapi persoalan-persoalan yang muncul akibat globalisasi. Kader partai harus mempunyai identitas diri yang kuat dan memiliki antisipasi terhadap perubahan-perubahan yang akan terjadi.
Heilbroner ( Tilaar,1997:34) menyatakan bahwa:
“masa depan atau esok hari hanya dapat dibayangkan dan tidak dapat dipastikan. Masa depan tidak dapat diramalkan. Manusia hanya dapat mengontrol secara efektif kekuatan-kekuatan yang membentuk masa depan pada hari ini. Dengan kata lain masa depan adalah masa kini yang diarahkan oleh manusia itu sendiri. Apabila manusia masa kini tidak mengenal kemungkinan-kemungkinan yang akan lahir serta kekuatan-kekuatan yang akan membawa kehidupan umat manusia di masa depan tidak dikenal maka manusia itu akan menderita akibat ketidaksadarannya itu. Dengan kata lain manusia yang tidak mempunyai persepsi terhadap masa depannya akan dibawa oleh arus perubahan yang dahsyat yang membawanya ketempat yang tidak dikenalnya. Maka hasilnya sudah dapat dibaca, yaitu kehidupan di dalam ketidakpastian atau chaos”.
Untuk membangun kepribadian kader dalam menghadapi problematika yang muncul akibat globalisasi sehingga tidak terjebak dalam arus perubahan yang menimbulkan ketidakpastian (chaos) maka diperlukan pemberdayaan yang bertujuan menjadikan kader sebagai warga dunia yang baik dan bertanggungjawab (good and responsible citizenship) yang menurut Rosada (2000:10) bertujuan :
“… untuk (a) membentuk kecakapan partisipatif yang bermutu dan bertanggung jawab dalam kehidupan politik dan masyarakat baik di tingkat lokal, nasional, regional dan global ; (b) menjadikan warga masyarakat yang baik dan mampu menjaga persatuan dan integritas bangsa guna mewujudkan Indonesia yang kuat, sejahtera dan demokratis; (c) menghasilkan mahasiswa yang berfikir komprehensif, analitis, kritis dan bertindak demokratis, yang … akan menjadi warga bangsa yang mudah dipimpin tapi sulit dikendalikan, mudah diperintah tetapi sulit diperbudak; (d) mengembangkan kultur demokrasi yaitu kebebasan, persamaan, kemerdekaan, toleransi, kemampuan menahan diri, kemampuan mengambil keputusan serta kemampuan berpartisipasi dalam kegiatan politik kemasyarakatan; (e) mampu membentuk mahasiswa menjadi good and responsible citizen ( warga negara yang baik dan bertanggung jawab ) melalui penanaman moral dan keterampilan sosial (social skills) sehingga kelak akan mampu memahami dan memecahkan persoalan-persoalan aktual kewarganegaraan seperti toleransi, perbedaan pendapat, bersikap empati, menghargai pluralitas, kesadaran hukum dan tertib sosial, menjunjung tinggi HAM, mengembangkan demokrasi dalam berbagai lapangan kehidupan dan menghargai kearifan lokal (local wisdom). (Dede Rosyada et.al.,2000:10).
3. Respon terhadap Globalisasi
Kenyataan globalisasi yang bersifat paradoksal telah memunculkan perlawanan seperti tercermin dalam peristiwa 9/11. Di Eropa, pada dekade 1970-an, protes terhadap penindasan dimonopoli kelompok kiri. Namun setelah kelompok tersebut mulai melenyap di era 1990-an, maka menurut Eric Hiariej jaringan yang tersisa adalah kelompok Islam Radikal. Hal tersebut tercermin pada seorang mualaf Prancis yang ikut perang Bosnia. Lionel Dumont yang mengatakan “the muslims are the only ones to fight for the system”. Atau seperti yang dikatakan Mohammad Zarif-mantan diplomat Thaliban, yang mengatakan “it is common knowledge that American Imprealisme is the custodian of global capitalism……..the capitalist world selected the Americans as their watchdog on basis of their savageness in WW II” (Kompas, 6 Agustus 2005). 
Kegamangan menghadapi globalisasi yang seringkali berkonotasi pada kapitalisme dan imprealisme, bukan hanya monopoli kelompok kiri dan Islam radikal. Kelompok nasionalis, memiliki keprihatinan yang sama. Sukarno, dalam pidatonya di depan Majelis Umum PBB, 30 September 1960, yang diberi judul “Membangun Dunia Kembali” (To Build the World Anew) mengatakan ” Nasib umat manusia tidak dapat lagi ditentukan oleh beberapa bangsa besar dan kuat’. Bangsa-bangsa yang lebih muda, bangsa yang sedang bertunas, bangsa-bangsa yang lebih kecil pun berhak bersuara karena mempunyai tuntutan-tuntutan dan kebutuhan-kebutuhan sehingga berhak untuk didengar karena mempunyai peranan di dunia ini dan harus memberikan sumbangannya. Imprealisme dan perjuangan untuk mempertahankannya, merupakan kejahatan yang terbesar di dunia kita ini. Indonesia berusaha membangun suatu dunia yang baru, yang lebih baik yang sehat dan aman, di mana terdapat suasana damai dengan keadilan dan kemakmuran untuk semua orang serta kemanusiaan dapat mencapai kejayaannya yang penuh (Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi, 1961: 129-174).
Pidato Soekarno diperkuat dengan mengutif Al-Qur’an (S. 49: 13):
“Hai, sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain. Bahwasannya yang lebih mulia di antara kamu sekalian, ialah siapa yang lebih taqwa kepadaKu”.
Tahun 1960-an ketika Soekarno menyampaikan pidatonya, dunia sedang dalam amcaman perang nuklir akibat perseteruan antara Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat da Blok Timur yang di pimpin Uni Soviet. Namun Soekarno menolak dikotomi tersebut dan menggalang kekuatan milyaran rakyat di Asia Afrika seraya mengatakan bahwa “semua bangsa memerlukan suatu konsepsi dan cita-cita, dan jika cita-cita dan konsepsi itu menjadi usang, maka bangsa itu ada dalam bahaya”. Konsepsi yang diperlukan yang dimaksud Soekarno adalah Pancasila, yang dimaksudkannya sebagai alternatif dari Declaration of Independence dan Manifesto Komunis.
Sumber : http://www.isomwebs.net/2012/04/pancasila-dengan-globalisasi/

Selasa, 24 Desember 2013

ULUMUL HADIS ; KEDUDUKAN DAN FUNGSI HADIS

ULUMUL HADIS ; KEDUDUKAN DAN FUNGSI HADIS


 
Bab I
                                               PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Kita Mengetahui Bahwa di dalam kehidupan Beragama semua orang Masing-masing memiliki pedoman atau petunjuk sesuai Agama yang di Anutnya.salah satunya adalah Umat Islam.setelah Nabi Muhammad SAW Meninggal Dunia , Umat Muslim ditinggalkan Dua Perkara Bilamana mereka tetap berpegang teguh terhadap keduanya untuk diJadikan Pedoman Dalam hidup Akibatnya orang yang mengikuti Dua Hal tersebut Tidak Tersesat Untuk Selama-lamanya,Sehingga mereka selalu mendapat Ridho Allah SWT.Salah Satu Dari Keduanya Adalah Hadits.
Hadits Berasal dari Bahasa Arab , Kata Mufrad al-hadits , yang jama’nya adalah al-ahadits dan kata Dasarnya adalah tahdits yang artinya “Pembicaraan” . Dari sisi Bahasa , Kata Hadits memiliki beberapa Arti , diantaranya ialah ;
*      Al-jadid yang artinya ; “ yang baru “ ,lawan kata dari al-qadim yang artinya “ yang lama “ .
  • Al-thariq yang Artinya ; “ jalan “ .
  • Al-khabar  yang Artinya; “ Berita “ . 
  •    Al-sunnah yang Artinya ; “ Perjalanan “ .
  Selain pengertian Hadis Menurut Bahasa , Ada Pula Uraian pengertian Hadis Menurut Istilah, yaitu sebagai berikut ;
*      Ahli Hadits mengemukakan bahwa Hadis ialah segala perkataan Nabi saw , baik berupa perkataan , perbuatan , ketetapan ( taqrir ) Maupun sifat Beliau .
*      Ahli Ushul  menyatakan “ Semua perkataan SAW , Perbuatan Nabi dan Taqrirnya yang berkaiatan dengan Hukum – hukum syara’ dan ketetapannya”. Oleh sebab itu, Hadis adalah sesuatu yang berhubungan erat dengan missi dan ajaran allah yang menjadi tugas Muhammad saw sebagai Rasulullah , berupa ucapan , perbuatan dan ketetapan.
*      Lain halnya dengan Ahli Fiqih , Hadis yang dipandang sebagai Suatu Perbuatan yang dilakukan , tetapi tingkatannya tidak sampai pada Wajib atau Fardhu .

     Demikianlah beberapa Pengertian mengenai Hadis Baik itu secara Bahasa maupun secara istilah,adapun kedudukan dan fungsi Hadis dalam Bab Pembahasan .
1.2  Rumusan Masalah
v  Apa kedudukan dan fungsi Hadis?
1.3Tujuan Penulisan
v  Menguraikan Kedudukan dan Fungsi Hadis.
v  Membuat Referensi mengenai Kedudukan dan Fungsi Hadis.
1.5  Manfaat Penulisan
v  Menambah Pengetahuan tentang Hadis .
v  Membuka Wawasan terutama wawasan agama islam .
v  Dijadikan sebagai Bahan Pembelajaran bagi Mahasiswa STAIN Kendari Khususnya Mahasiswa Dakwah .
 Bab II
PEMBAHASAN
2.1 Kedudukan Hadis
Seluruh Umat Islam Mengetahui Bahwa Hadis Merupakan Sumber Hukum Islam yang kedua Setelah Al-qur’an  yang Mana sebelumnya telah disepakati Oleh Umat Muslim. Keharusan Mengikuti Hadis Bagi Umat Islam Baik Berupa Perintah Maupun Berupa Larangannya sama Halnya dengan Kewajiban Mengikuti Al-qur’an . Hal ini Karena , Hadis Merupakan Penjelas terhadap Al-Qur’an , yang Karenanya siapapun tidak akan bisa Memahami Al-Qur’an Tanpa Memahami dan Menguasai Hadis. Begitu Pula halnya, menggunakan Hadis Tanpa Al-qur’an. Karena Al-Qur’an Merupakan Dasar Hukum pertama, yang didalamnya berisi Garis Besar Syari’at. Dengan Demikian, antara Hadis dengan Al-Qur’an Memiliki Kaitan Sangat erat , yang untuk memahami dan mengamalkannya tidak bisa dipisah-pisahkan atau Berjalan sendiri-sendiri .
      Untuk lebih memahami kedudukan hadis lebih jauh sebagai sumber hukum islam yang kedua setelah Al-Qur’an , dapat dilihat beberapa dalil yaitu dalil naqli ( Al-Qur’an dan Hadis ) dan dalil ‘aqli ( rasional ). Seperti di bawah ini .
A.   Dalil Al-Qur’an
          Banyak ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang kewajiban untuk tetap teguh beriman kepada allah swt dan Rasulnya . Iman kepada Rasulullah SAW sebagai utusan allah SWT , merupakan suatu keharusan dan sekaligus kebutuhan setiap individu. Dengan demikian , Allah akan memperkokoh dan memperbaiki keadaan mereka. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Imran ayat 17 dan an-nisa ayat 136.
           Allah juga memerintahkan umat islam agar percaya kepada Rasulullah SAW , juga menyerukan agar mentaati segala bentuk perundang-undangan peraturan yang dibawanya,baik berupa perintah maupun larangan .Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Imran ayat 32 yang Artinya “Katakanlah ; “ Taatilah Allah dan Rasulnya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.Begitu pula dalam surat Al Hasyr ayat 7 Allah berfirman;
“ ..... apa yang diberikan rasul kepadamu , maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. “
          Selain ayat-ayat diatas , Masih banyak lagi ayat-ayat yang sejenis yang menjelaskan soal ketaatan kepada Allah dan Rasulnya ini.Dari beberapa ayat Al-Qur’an yang telah dijelaskan, dapat ditarik suatu pemahaman , Bahwa ketaatan kepada Nabi Muhammad SAW adalah bersifat Mutlak , sebagaimana ketaatan kepada Allah SWT. Begitu pula Halnya dengan Ancaman atau peringatannya bagi yang Durhaka; Ancaman Allah swt sering disejajarkan dengan Ancaman karena Durhaka kepada Rasulnya.
B.   Dalil Hadis Rasulullah SAW
           Menyangkut Hadis Nabi Muhammad SAW , tidak hanya dalil Al-Qur’an saja yang menjelaskannya ,dalil yang berdasarkan Hadis Rasulullah sendiri juga turut menjelaskan.Banyak Hadis yang Menggambarkan hal ini yang menunjukkan perlunya ketaatan kepada perintahnya.Dalam salah satu pesannya ,  yang diriwayatkan oleh Al-
Hakim yaitu “ Aku tinggalkan kamu dua pusaka pada kalian. Jika kalian berpegang kepada keduanya, niscaya tidak akan tersesat, yaitu kitab Allah, ( Al-Qur’an ) dan sunnah Rasulnya”.
C.   Kesepakatan Ulama ( ijma’)
           Persetujuan umat Islam dalam menyepakati Hadis sebagai sumber hukum Islam yang kedua yang mana kesepakatan tersebut dilandasi dengan sikap mempercayai, menerima serta mengamalkan segala ketentuan yang terkandung didalam Hadis Berlaku sepanjang Zaman, sejak Nabi Muhammad saw masih hidup dan sepeninngal- annya, masa khulafa ar-rasyidin , tabi’in , tabi’u tabi’in atau tabi’in tabi’i , serta masa-masa selanjutnya , dan tidak ada yang menging- karinya sampai sekarang. Banyak diantara mereka yang tidak hanya memahami dan mengamalkan isi kandungannya , akan tetapi mereka menghafal, mentadwin, dan menyebarluaskan dengan segala upaya kepada generasi-generasi selanjutnya .Dengan ini, sehingga tidak ada Satu Hadispun yang tercecer dari pemeliharaanya. Begitu pula , tidak ada satu Hadis palsupun yang dapat Mengotorinya.
D. Petunjuk Akal
           Kerasulan Nabi Muhammad saw telah diakui dan dibenarkan oleh umat Islam. Ini menunjukkan adanya pengakuan, bahwa Rasulullah saw membawa misi untuk menegakkan Amanat dari zat yang me-ngangkat kerasulan itu, yaitu Allah swt. Dari Aspek akidah, Allah SWT Bahkan menjadikan kerasulan ini sebagai salah satu dari prinsip keimanan. Dengan demikian , manifestasi dari pengakuan dan keimanan itu mengharuskan semua umatnya mentaati dan mengamalkan segala peraturan serta insiatif Beliau, baik yang beliau ciptakan atas  bimbingan wahyu maupun hasil ijtihadnya sendiri.
           Didalam mengemban misinya itu, terkadang Beliau hanya sekedar menyampaikan apa yang diterima dari Allah swt, baik misi  maupun Vormulasinya dan terkadang pula atas insiatif sendiri dengan bimbingan ilham dari tuhan. Namun juga beliau tidak jarang  membawakan hasil ijtihad semata-mata mengenai suatu masalah yang
tidak ditunjuk oleh wahyu dan tidak dibimbing oleh ilham. Kesemuanya itu merupakan Hadis Rasul, yang terpelihara dan tetap berlaku sampai ada nas yang menasakhnya.
2.2Fungsi Hadis ( terhadap Al-Qur’an)
A. Bayan at-Taqrir
          Bayan at-Taqrir disebutkan juga dengan bayan at-Ta’ kid dan Bayan al-itsbat. Yang dimaksud dengan Bayan ini adalah menetapkan  dan memperkuat apa yang telah diterangkan dalam Al-Qur’an.fungsi  hadis dalam hal ini hanya memperkokoh isi kandungan Al-Qur’an,   salah satu contohnya adalah surat Al-maidah ayat 6 tentang  keharu-san berwudhu sebelum shalat yang Artinya“ Hai orang-orang yang beriman , apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan ( Basuh ) kakimu sampai dengan kedua mata kaki”.Ayat ini ditaqrir oleh Hadis Riwayat al-Bukhary dari Abu Hurairah, yang berbunyi ;” Tidak diterima shalat seseorang yang berhadas sebelum berwudhu “.
          Jadi berdasarkan uraian diatas, Bayan  at-Taqrir adalah Hadis yang Berfungsi untuk menetapkan dan memperkuat apa-apa yang telah dijelaskan dan ditetapkan oleh Al-Qur’an. Menurut sebagian ulama, bayan taqrir atau bayan ta’kid bisa juga disebut dengan bayan al-Muwafiq li-nash al-kitab al-karim.
B. Bayan at-Tafsir
          Adalah  Hadis yang berfungsi untuk memberikan tafsiran dan rincian terhadap hal-hal yang sudah dibicarakan oleh Al-Qur’an. Hal ini dapat dikelompokkan di bawah ini sebagai Berikut;
1.    Bayan al- Mujmal
                        Mujmal Artinya Ringkas atau singkat. Dari ungkapan yang singkat ini terkadang banyak Makna yang perlu dijelaskan. Hal ini  Karena , belum jelas makna mana yang dimaksudkannya, kecuali setelah adanya penjelasan atau Perincian.Dengan kata lain, ungkapannya masih bersifat umum. salah satu contohnya adalah
a)    Hadis tentang tata cara shalat
“ Shalatlah kamu sekalian sebagaimana engkau sekalian melihat aku shalat”. H.R Bukhary
2.    Taqyid al-Muthlaq
Maksudnya ialah Hadis itu memberikan batasan-batasan terhadap ayat-ayat yang sifatnya masih mutlak yaitu kata yang menunjukkan pada hakikat kata itu sendiri apa adanya, dengan tanpa memandang jumlah maupun sifatnya.Contoh;
Hadis tentang status hukum bangkai dan belalang,yaitu;
“ Telah dihalalkan bagi kamu sekalian dua Macam Bangkai, yaitu bangkai ikan dan Bangkai Belalang” .
3.    Takhshishu al-‘Am
Kata am, kata yang menunjukkan makna dalam jumlah yang banyak. Sedang kata Takhshish atau khash, ialah kata yang menunjuk arti Khusus, tertentu atau tunggal.yang dimaksud menthakshish yang ‘ am disini adalah yang membatasi keumuman ayat al-Qur’an sehingga tidak berlaku pada bagian-bagian tertentu.contoh;
Artinya; “ Allah telah mensyariatkan bagimu tentang ( pembagian harta pusaka untuk)anak-anakmu, yaitu bagian anak laki-laki dua kali lipat dari bagian anak perempuan”.
Ayat  di atas ditakhshih oeh hadis yang berbunyi;” Nabi saw bersabda;”Tidaklah seorang muslim mewarisi harta dari orang kafir dan orang kafir tidak boleh mewarisi harta muslim”.
C. Bayan at-Tasyri
                         Ialah membentuk hukum yang didalam Al-Qur’an tidak ada atau sudah ada tetapi sifatnya hanya khusus pada masalah-masalah pokok, sehingga kedatangan hadis dapat dikatakan sebagai tambahan terhdap al-Qur’an.contoh;“ Bahwasanya Rasul saw telah mewajibkan zakat fitrah kepada umat islam pada bulan ramadhan satu sukat (sha’) kurma atau gandum untuk setiap orang.
D . Bayan an-Nasakh
                        Ialah hadis yang berfungsi untuk melakukan perubahan terhadap apa-apa yang telah ditetapkan oleh al-Qur’an.Salah satu contoh;sabda Rasul saw dari abu umamah al-Baili yang berbunyi;” Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada tiap-tiap orang Haknya ( masing-masing ). Maka,tidak ada wasiat bagi ahli waris”. ( H.R Ahmad dan al-Arba’ah,kecuali an-Nasa’i).Hadis ini dinilai Hasn oleh Ahmad dan at-Turmudzi.Hadis ini menurut mereka menasakh isi al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 180” Diwajibkan atas kamu,apabila sesorang diantara kamu kedatangan ( tanda-tanda) maut,jika ia meninggalkan harta yang banyak,berwasiat untuk ibu-bapak,dan karib kerabatnya secara ma’ruf,ini adalah kewajiban orang-orang bertakwa” . 
Bab III
PENUTUP                                          
3.1 Kesimpulan
             Berdasarkan pada Bab pembahasan , dapat ditarik kesimpulan Bahwa Hadis berkedudukan sebagai penjelas Hukum atau ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an.
             Didalam al-Qur’an tidak semua memberikan penjelasan mengenai suatu hukum misalnya saja sholat lima waktu.setiap sholat masing-masing rakaatnya berbeda.hal mengenai jumlah rakaat atas masing-masing tidak dijelaskan dalam al-Qur’an.itulah sebabnya Hadis disebut sebagai sumber hukum islam yang kedua setelah Al-Qur’an.
3.2 Saran
                        Sebagai Pengikut Rasulullah saw alangkah baiknya kita mematuhi segala perkataannya dan meneladani perbuatannya karena sebaik-baik umat islam mengikuti ajarannya.
Daftar Pustaka
 Kuraedah, Ulumul hadis II ,Kendari; Istana profesional, 2007
 Ma’shum zein,muhammad, Ulumul Hadis dan Musthalah hadits,Jakarta ;                  Departemen agama RI, 2007
Sulaemang, Ulumul hadis,Cet.I,Hal 21-42, Makassar ; CV Shandra, 2009

Artikel Pendidikan Pancasila di Era Reformasi




Pendidikan Pancasila di Era Reformasi – Dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir ini, kalau membicarakan Pancasila, rasanya ada orang yang mengernyitkan dahi sambil berpikir, apakah Pancasila masih relevan. Sepanjang reformasi Pancasila seakan akan merupakan objek menarik yang dijadikan acuan pencapaian keseluruhan proses reformasi. Pancasila harus selalu menjadi acuan pencapaian tujuan Negara Indonesia . Pertanyaannya, Pancasila dalam konteks yang mana. Harus dibedakan apakah sebagai pandangan (falsafah)bangsa, ideologi maupun sebagai dasar negara.
Kerancuan dan perbedaan persepsi yang berkembang di masyarakat tidak terlepas dari perbedaan pemahaman tentang tatanan nilai dalam kehidupan bernegara yang belum berjalan secara sinergis, yaitu antara nilai dasar, nilai instrumental dan nilai praktis.
Nilai dasar adalah asas yang kita terima sebagai dalil yang setidaknya bersifat mutlak. Kita menerima sebagai sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Nilai instrumental adalah pelaksanaan umum dari nilai dasar yang biasanya berupa norma sosial maupun norma hukum yang akan dikonkretkan lagi oleh pemerintah dan para penentu kebijakan.
Sifatnya dinamis dan kontekstual. Nilai ini sangatlah penting karena merupakan penjabaran dari nilai dasar dalam wujud konkret sesuai perkembangan masyarakat. Bisa dikatakan nilai ini merupakan tafsir positif dari nilai dasar. Berikutnya adalah nilai praktis yaitu nilai yang sesungguhnya kita laksanakan dalam kehidupan nyata sehari-hari di masyarakat.
Seharusnya semangat yang ada pada realitas masyarakat sama dengan yang ada pada nilai dasar dan instrumental, karena dari kajian inilah akan diketahui apakah nilai dasar dan instrumental telah betul betul ada di tengah tengah masyarakat. Berangkat dari pemikiran tersebut maka penataanya bisa diurutkan dengan falsafah, ideologi, politik dan strategi (mainstream).
Falsafah dan ideologi pada nilai dasar, politik dan strategi di nilai instrumental. Sedang konkretisasi di masyarakat adalah nilai praktis yang harus diupayakan untuk mengimplementasikan nilai dasar dan instrumental.
Final
Pendidikan Pancasila di Era Reformasi
Pendidikan Pancasila di Era Reformasi – Perenungan, pembahasanan, wacana tentang falsafah adalah final artinya nilai dasar yang terkandung di dalam Pansasila adalah sesuatu yang tidak perlu diberbincangkan lagi, karena Pancasilalah tujuan keseluruhan yang diinginkan dan diupayakan bangsa Indonesia.
Jika sebagian masyarakat bingung dan mempertanyakan apakah masih relevan membicarakan Pancasila maka kita seyogianya mengkaji dari dua nilai terakhir tersebut, mengapa? Karena Pancasila bisa berubah bentuk aktualisasi maupun implementasinya oleh pemerintah yang berkuasa.
Pada masa Orde Lama misalnya, Pancasila menjadi ideologi murni . Pancasila lebih banyak berada dalam ranah idealisasi. Artinya pemikiran Pancasila lebih ke ide, gagasan, konsep yang dijadikan pegangan seluruh aspek kehidupan
Pancasila seakan-akan ada di awang – awang karena hanya berupa dogma yang sulit diterjemahkan. Pada masa Orde Baru penguasa menjadikan Pancasila sebagai Ideologi politik, hal ini bisa dilihat dari berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah berkaitan dengan keharusan elemen masyarakat (orpol dan kemasyarakatan serta seluruh sendi kehidupan masyarakat ) yang harus berasaskan Pancasila.
Jelas sekali pemerintah menggunakan Pancasila sebagai “alat” untuk melegitimasi berbagai produk kebijakan. Dengan berjalannya waktu muncul persoalan yaitu infrastruktur politik terlalu larut dalam mengaktualisasi nilai dasar, sehingga mulai muncul wacana adanya berbagai kesenjangan di tengah masyarakat .
Kondisi ini ditambah dengan bergulirnya globalisasi yang menjadikan tidak adanya lagi sekat-sekat pemisah antarnegara sehingga pembahasan dan wacana yang mengaitkan Pancasila dengan ideologi atau pemahaman liberalisasi, kapitalisasi dan sosialisasi tak terelakkan lagi.
Dibandingkan dengan ideologi liberal misalnya maka pemecahan persoalan yang terjadi akan mudah karena ideologi liberal mempunyai konsep jelas ( kebebasan di bidang ekonomi, ketatanegaraan, agama) demikian juga jika ideologi sosialis (komunis) menjawab persoalan pasti rumusnya juga jelas yaitu dengan pemusatan pengaturan untuk kepentingan kebersamaan.
Pada pertengahan Orba mulai banyak wacana yang menginginkan agar Pancasila nampak dalam kehidupan nyata, konkret, tidak angan-angan semata ( utopia ). Itu berarti Pancasila menjadi ideologi praktis. Lalu bagaimana dengan implementasi di era reformasi sekarang ini?
Dengan berakhirnya era Orde Baru dan bergulirnya reformasi, sepertinya masyarakat menginginkan sinergi antara apa yang ada pada nilai dasar, nilai instrumen dan nilai praktis dan tidak mau terulang lagi perwujudan bentuk sebagai ideologi murni, ideologi politik semata.
Pancasila Artinya antara antara falsafah, ideologi, politik dan strategi harus dijalankan secara sinergis dan kesemuanya ditujukan untuk mewujudkan tujuan yang dikehendaki seluruh bangsa yaitu mewujudkan civil society, social justice, welfare state.
Upaya
Berangkat dari permasalahan di atas beberapa hal di bawah ini perlu diupayakan seluruh elemen masyarakat yaitu :
1. Dikembangkan sikap civic disposition ( pengembangan nilai dan sikap kewargaan dalam interaksi sosial kemasyarakatan, kebangsaan dan pergaulan global ) civic knowledge ( pengembangan pengetahuan kewargaan tentang demokrasi, HAM, masyarakat madani dan tata pemerintahan) dan civic skill ( pengembangan keterampilan kewargaan sebagai anggota masyarakat, bangsa dan masyarakat global dalam interaksi sosial maupun dalam interaksinya dengan negara atau dunia internasional )
2. Agar tetap kredibel menurut Prof Koento Wibisono maka Pancasila harus direvitalisasi. Artinya Pancasila diletakkan dalam keutuhannya dengan pembukaan dan dieksplorasikan sebagai paradigma dalam dimensi yang melekat padanya yaitu realitas, idealitas dan fleksibilitasnya.
3. Agar tetap membumi, Pancasila dikembalikan pada jati dirinya yaitu ideologi negara dan mengubah dari wacana ideologi semata menjadi ilmu, serta tetap menjadikan Pancasila sebagai kriteria kritik setiap kebijakan negara.
4. Menjadikan Pancasila sebagai living reality ( kenyataaan hidup sehari-hari dengan melihat perkembangan masyarakat sebagai peningkatan HAM. (11)

Jumat, 20 Desember 2013

Kancil Karo Monyet

Kancil Karo Monyet

Biyen nalika eyang esih urip, lan aku esih alit, nanging saiki eyang uwis seda. Meh saben , nalika arep mapan turu, eyang mesti nyeritakaken cerita, mbuh kue cerita sejarah jamane perang utawa dongeng kewan. Saiki aku arep nyeritakake doneng sing wis diceritakake eyang sing esih aku eling-eling, crita Kancil karo Monyet. Ora sranta serune... mayu wacanen crita ng ngisor iki. Mayo diwaca maning seru banget critane.


Ing sawijine dina ing rimba, ana akeh jenise kewan sing urip tentrem lan akur siji lan sijine. Kabeh kewan nduweni keuripan lah lakune dewe-dewe. Nanging ana siji kewan sing anane gawe drusila lan paling licik, arane Kancil. Kelicikane utek lan pintere ngomong nipu kanca batir. Kancil wis dikenal kaya dene kewan sing duweni sayuto tipu daya. Nah iki sing dadi sasarane Monyet.
Ing sawijining dina, ana Monyet lagi penekan ing ngisor wit pring. Singsot, ndendang karo ngrasani roti. Kancil teka, weruh Monyet sing agi asik karo rotine. Utek licike muncul pingin jukut roti kang tangane Monyet.

"Nyet..Nyet..," undnag Kancil marang Monyet.
Monyet maringi Kancil, "Ana apa Cil? Keo ngundang aku?," takon Monyet.
Kancil : "Nyet.. aku wei setitik rotine, setitik baen aja akeh-akeh," jaluke Kancil
Monyet : "Iya.. aku kan apikan, kiye separoan karo aku,"
Kancil : "Suwun ya Nyet... koe mancen apikan, nanging aku baen sing maro," jaluke Kancil.
Monyet aweh roti nggo diparo maring Kancil ora nduweni rasa curiga karo Kancil. "Kiye... koe paro sing adil," penjalukane Monyet karo aweh rotine marang kancil.
Kancil maro rotine karo utek licike, siji gede siji cilik, nanging Monyet ora ngerti. Sawise diparo Kancil aweh bagean sing cilik maring Monyet, bagean sing gede dicekel dewek.
"Cil... nang ngapa ka gede gone ko?," takon Monyet.
Kancil : "Mrene gawa mrene, tak gawe pada.," banjur Kacil mangan setitik rotine sing gecel dewek, "Iki wis pada," Kancil aweh rotine meng Monyet.
Monyet : "urung Cil!! kue esih gede gone aku,"

Kancil njiot roti sing nang tangane Monyet, banjur dipangan setitik, kaya kue seteruse kanti rotine entek dipangan Kancil. hihihihi
Ahire Kancil mangan rotine kabeh, Monyet ulih kesuh karo Kancil wong Monyet sing duweni roti malah ora tampa. Mancen Kancil licik ora patut ditiru, urip nang masyarakat kue kudu brayan urip lan sinambi rewang siji lan siji liane. Urip bakal rukun ora kaya jaman saiki urip pada karepe dewek-dewek.
Hehehehe matur nuwun mugi crita wau nggadahi manfaat ingkang sae.

Amenangi Zaman Preman

Amenangi Zaman Preman
image
DIAKONI apa ora, preman Jawa ana tenan, tur wis kaya langes lampu, metengi jagad. Anehe, ana sing seka lair pancen duwe gawan bayi dadi preman. Yen ing crita wayang, wong-wong ngene iki mesthi disimping ing sisih kiwa. Akeh-akehe preman mau lair kanthi rai abang. Jenenge wae kinanthenan tembung ”Dur”, ateges ala. Coba digagas, jaman trekahe Dursasana ngudhal-udhal kasemekane dewi Drupadi. Seka kisah iki, nganti tuwuh prajanji, sang dewi durung pati-pati adus kramas, yen ora nganggo getihe Dursasana —ateges ngenteni bedhahe Perang Baratayuda.
Ngono iku trekahe preman sing ndrawasi, merga kelayu napsu supiah, nganti nuwuhake dredah. Nganti entek-entekake nyurung nafsu aluamah lan amarah, merga rebutan lemah sing ora barokah. Pawadane mung rebutan Lenga Tala, ateges panguwasa, nganti tekan wanita. Watak premanisme Dursasana wis ngobong urube perang gedhe. Malah anehe uga dijurung dening kadang-kadang Kurawa liyane, utamane Duryudana, pengin ngukuhi bumi Ngastina. Kala-kala uga sok ana lakon carangan kang wose Kurawa njaluk bantu marang dewa-dewa sing jiwane katut ambyur dadi preman.
Lakon-lakon kayata Resi Cakrabawana, Begawan Kilat Buwana, Semar Mbangun Kahyangan, Wisanggeni Gugat, Pandhuswarga, Prabu Dasakumara, lan sapanunggalane —ora wurung ngemot premanisme dewa. Malah Bathara Guru wae asring katut pengin mitenah Pandawa. Najan pepuntone, dewa sing melu-melu preman mau kudu ndheprok merga diempoki Semar, kapokmu kapan!
Durung meneh yen nyemak kisah-kisah heorik Jawa liyane, jebul jagad iki wis dikepung preman. Paraga-paraga kayata Minakjingga, Dasamuka, Arya Penangsang, Jaka Puring, Kalasrenggi, Klana Sewandaka, Ken Arok, Dewatacengkar, lan sapanunggalane tetela tau ngrasakake jejer premanisme. Napas sudra lan angkara murka budi candhala sing ngisi keteging jantung preman. Dheweke mbokmenawa duwe gegebengan: ”Urip sepisan dijupuk manise, emoh rekasane.” Yen cara buta, dheweke pengin ”nguntal malang” isen-isening donya. Yen brangasan, ya pengin ngemperi jagad, pengin ngelun jagad saisine.
***
KIRAKU, tekan jaman embuh kapan, preman Jawa ora bakal entek. Watak ”Dur” (dur angkara, dur sila, durjana) isih akeh ngembangi donyane peprentahan iki. Pancen nyepet-nyepeti donya preman iku. Merga sipate preman sing ngumbar angkara murka, mburu sing cepak sinandhing, ngoyak sing enak kepenak, kelayu gebyaring pupu, kecopake iwak, lan kemrimpyinge dhuwit, wong-wong sing maune resik sok ketularan. Wong sing maune becik, malik ngluwihi maling. Lha koruptor treliyunan, milyaran, iku apa dudu preman kelas kakap?
Mangga wae. Sing genah, R Ng Ranggawarsita wis menehi pepeling, menawa negara Jawa iki wis akeh ”kaji-kaji mbanting kethu, wong alim-alim pulasan”, kaya kang kacetha ing Serat Kalatidha, preman saya ngembrah. Luwih-luwih, angger wong-wong wis dha seneng ”njupuki lompong seka papan jember, dienak-enik, dadi tamanan edi, iki wis cepak tanduke brahala.” Haratayah!
Coba digagas wawas sing wening. Piye ramutane kisah Brandhal Lokajaya, kang samengko nunggal misah karo Sunan Kalijaga? Samono uga Mas Cebolang ing Serat Centhini. Dheweke putrane Pendhita Akidiyat ing Sokayasa Banyumas, rupane nggantheng nanging nakale ngudubilah —gelem ngrampok lan dolanan asmara.
Satemene ora sithik kisah preman Jawa kang luwih degsiya. Kepriye trekahe Warok Suromenggala ing kisah Suminten Edan, kisahe Jaka Tingkir, Narayana Mlebu Maling, Samba Sebit, lan sapiturute —kabeh kelepetan napsu preman. Wong sing sekawit apik bisa malik. Kabeh napsu preman mau, kadereng seka rasa dhiri. Rasa kang manut Ki Ageng Suryamentaram sok ”mulur”, njur mungal dadi rumangsa sekti dhewe, kuwat dhewe, dhug-dheng samaladheng, sekti mahambara, njur sok mbalela. Wong-wong kang rumangsa linuwih, asring ketutupan mendhung atine, njur ana sing wani mbondhan tanpa ratu. Dheweke tegel njarah rayah, embuh kanthi peksan apa alus-alusan, nere padha wae bosok.
Preman Jawa sing wis gawan bayi lan sing salah kedaden mau, minangka simbolisme Jawa. Dheweke dadi sasmita lungit mubale hawa nepsu amarah, rupane abang mangar-mangar, kedadeyan seka getih, mapane ing kiblat papat lima pancer sisih kidul (duksina). Mula, wong-wong sing dha lali marang jejering dhiri mau sok diarani ora ngerti purwa duksina. Purwa (witan, wetan) utawa sangkaning urip lan duksina (napsuning amarah). Ora ngerti purwa duksina, ateges lali marang jejer kawitan (lor kidul), yaiku jaman ana emanasi Pangeran kang wis manjing ing jagade manungsa.
Jaman emanasi, manungsa iku kepanjingan dzat Jati, rumasuk ing roh ilapi (rasa sejati), mencar dadi 4 anasir, yaiku bumi, geni, angin, lan banyu. Menawa anasir geni kang mubal, ateges amarah kang paling menang, saengga nuwuhake jagad preman sing ora karuwan iku. Mula wis dadi sipating geni, pengin ngobong, pengin menang, pengin unggul, lan kadhang kala sapa sira sapa ingsun.
Yen amarah mau ketambahan napsu supiah lan aluamah, ndadekake pribadine manungsa gonjang-ganjing. Atine menungsa sarwa peteng, tanpa kendhali, njur nggrangsang, sok nggege mangsa. Napsu mutmainah kang dumadi seka anasir banyu, putih warnane malik bonteng-bonteng. Mutmainah kabotan ngusung lan ngendhaleni anasir lemah, geni, lan angin tumuju ing pancen (Gesang Kita Pribadi). Akibate, jagade manungsa saya botsih, ora harmoni. Yen wis ngene iki, kisah-kisah peteng sing kliwat ting jredhul watak mbrandhal, tegel maeka, ndhugal ora ketulungan, lan cemithak preman Jawa kang nggegirisi. Ora mung tega nyolong, ngrampok, lan ngecu, ning wong sing jiwa gentho mau gelem mulasara.
Lelakon ma-lima wis dilalap entek. Sajake weruh wutahing getih wis dudu apa-apa, sing baku dheweke ngeruk untung, najan atine buntung. Watak ala kang adigang-adigung adiguna, persis kidang ngendelake bisa mlumpat, kaya gajah ngungalke gedhene, lan kaya ula ngungaske upase mandi, jiwane malik ngangah-angah kang dipepundhi.
Satemene, wong Jawa wis duwe cekelan mbusak premanisme. Preman sing dadi leletheging jagad gelah-gelahing bumi, bisa dipapras tapis srana gegebengan luhur ing Serat Wulang Reh kang muni: ”dedalane guna lawan sekti, kudu andhap asor, wani ngalah luhur wekasane, amendhaka yen na kang ngladaki, bapang den simpangi ana catur mungkur.” Dalane wong mulya, piguna, sekti, dudu seka anggone ngumbar hawa, nanging seka patrap andhap asor. Patrap susila anoraga, suthik nyimpen tembung-tembung trocoh (saru), lan tembung pisuhan. Gajege, ana tindak ala (bapang) lan jember (bathang), disimpangi.
Watak Jawa kang kasebut pungkasan iku, klebu nepsu mutmainah, merga dumadi seka banyu perwitasari, mrentul seka tlutuh kumalasari. Nalika campuring rasa mulya jalu-estri, mutmainah iku kang kajibah nuntun tekan pepadhang. Nepsu iki kang nyirep ubaling geni (amarah), ngeker kang dhemen nggedhekake puluk (aluamah), lan nggiring angin (supiah), tumuju ing rasa sejati.
Mula seka iku, premanisme Jawa bakal tingkes tapis, lamun Gesang kita Pribadi bisa nyekel kendhali, kaya lelagone Ki Dhalang: ”Bocah bajang nggiring angin, anawu banyu segara, pangirite kebo dhungkul, sasisih sapi gumarang.”
Tegese, bocah bajang iku pancering urip (pribadi) kang kasinungan roh joharmanikem. Dheweke bakal mekak nepsu papat, yaiktu nggiring angin (supiah), nawu banyu segara (mutmainah), pangirite kebo dhungkul simbole wong bodho utawa amarah, lan sasisih sapi gumarang (aluamah). Yen wis ngono iku, pancer bakal nyorotake cahyaning Panembah Jati lebar ki dhalang njogedake wayang golek (golekana wose), kanthi gegebengan: ”jaya-jaya wijayanti, sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti.” Kabeh kuwanen, kekendelan, watak degsura, ndhugal, preman lan sapiturte —ajure dening manembah jati. Njur tancep kayon. Kabeh pakarti ala becik, bener luput, satriya-preman, bakal kewiyak nalika manungsa wus nuju sangkan paran, jagad ginulung.

Cerita lucu bahasa jawa Nonton Barongsai

Nonton Barongsai
Nalika tekan sangarepe bengkel sepedha montor Maju Lancar, Rendi ndeleng Tarmi­di lagi lungguh ing bangku dawa njero bengkel kono. Rendi banjur ngenggokake sepedha onthele, nyedhaki Tarmidi. Lik Sardi sing duwe bengkel uga ngrangkep tukang servis lagi nyambut gawe nyethel knalpot. Tangan kiwa lan tengene gupak oli.
“Wah, sajake sepedha montor anyar iki duwekmu, Di ?” pitakone Rendi  nye­dhak karo milang-miling ngingeti sepedha montor sing ketara isih gres mambu toko.
“Ya, olehe tuku isih entuk patang dina. Entuk kiriman dhuwit saka Ibu sing nyam­but gawe ana Malaysia, njur aku ditukok­ke sepedha montor. Saiki Lik Sardi takkon nyetel knalpote ben unine banter nggo trek-trekan  Imlek mengko bengi,“ aloke Tarmidi karo mesam-mesem seneng, sa­jak kepranan karo sepedha montore sing modhel anyar kuwi.
“Lho, iki mau Rendi, to? Piye knalpote iki wis tak setel, unine mesthi banter mbre­begi kuping. Piye Ren, kowe sida melu Tarmidi trek-trekan mengko bengi?“ sumambunge Lik Sardi karo nyetater mesin sepedha montor. Byuh, unine  jan mbedhah kuping tenan. Rendi  meksa nyumpeti kupinge kiwa tengen nganggo drijine. Suwalike Tarmidi malah ngguyu lakak-lakak, sajak seneng banget.
“Piye wis cocog  ora. Yen isih kurang banter mengko tak bedhele maneh” pita­kone Lik Sardi karo mateni kontak mesin.
“Wis cukup Lik. Piye Ren, sida gelem melu trek-trekan karo aku pa ora?” pita­kone Tarmidi. Rendi  mung gedheg, ora gelem. Karo maneh wong tuwane mesthi ora ngijini.
“Ora, aku wedi. Aku arep ndeleng Barongsai wae,” kandhane Rendi banjur pamit mulih.
Tarmidi najan isih bocah kelas siji  SMP, nanging  nakale ora jamak. Yen ing sekolah wis ora pisan pindho padu karo kanca-kancane. Uga wis bola-bali didu­kani gurune, nanging meksa durung ka­pok. Omahe kepetung cedhak karo omahe Sasono. Ibune nyambut gawe dadi Tenaga Kerja Wanita ing negara Malaysia. Ing ngomah, Tarmidi mung be­barengan karo bapake sing saben dinane nyambut gawe dadi Satpam ing pabrik sepatu.
Tekan omah, Rendi  banjur ngaturake obat watuk marang bapake, sing dhek mau tuku saka tokone  Abah Kamal. Bu­bar kuwi Rendi  banjur ngrewangi ibune resik-resik nyaponi ruwang tamu. Rendi  seneng awit bapak lan ibune janji ngajak mirsani pagelaran Barongsai mapak te­kane taun Imlek sing digelar sangarepe klentheng sacedhake alun-alun kutha.
Jam loro awan sidane Rendi ndherek bapak lan ibune menyang alun-alun. Wong telu boncengan numpak sepedha montor ngupengi kutha sing pancen swasanane rame. Sadalan-dalan kebak wong lan kendharaan. Sajake kabeh wong padha selak kepingin ndeleng kese­nian Barongsai, ngramekake tekane  taun  Imlek.
Ing alun-alun swasanane regeng ba­nget. anang wadon gedhe cilik, nom tuwa tumplek bleg ngebaki alun-alun kutha. Wong adol panganan maneka warna. Apa maneh sing jenenge tukang bakul dola­nan prasasat payu laris manis nganti en­tek gusis. Pas jam telu awan, pagelaran Barongsai diwiwiti. Swarane jidhor lan tambur ditabuh rame banget. Ora let su­we, siji mbaka siji grup Barongsai  tampil ing plataran klentheng sing jembar. Grup Barongsai padha mamerake ketrampilane dhewe-dhewe. Para pamirsane uga pa­dha seneng, malah kepara menehi se­mangat nganggo keplok. Semono uga Rendi ora gelem keri, nonton nggon nga­repan. Apamaneh nalika grup Barongsai Dragon melu ngregengake pagelaran kuwi, Rendi melu keplok rame. Awit grup Barongsai Dragon kuwi dipimpin dening Koh Bak Liong, salah siji tangga cedhak omah nunggal RT.
Pagelaran Barongsai Imlek kuwi sa­jake uga narik kawigaten para wartawan suratkabar lan televisi. Ketara saka  ke­repe para wartawan njupuk gambar atrak­sine Barongsai. Warta lan gambar Ba­rongsai kuwi bakal kapacak ing suratkabar utawa ditayangake ing televisi.
Pagelaran Barongsai mapak tekane taun anyar Imlek dipungkasi pas jam se­tengah lima sore. Rendi bebarengan ba­pak ibune bali mulih. Ora lali, mampir bakul adol kacang godhog lan martabak. Ibune sing tuku, jarene nggo camilan me­lekan ing omah ngiras nonton siyaran te­levisi.
Nalika sepedha montor lagi wae mlebu gang kampung, dumadakan ing sangarepe omahe Tarmidi katon kebak wong. Sepedha montor banjur mandheg. Wong telu banjur padha mudhun nyedhaki, golek katrangan ana kadadeyan apa.
“Tarmidi kacilakan, truk ngemot pasir pinggir dalan ditubruk saka mburi. Sepedha montore ringsek. Bocahe teng griya sakit, tatune sajake rada abot,” aloke sawenehing warga.
“Oooaalaa bocah durung cukup umur lha kok diumbar wae nyetir dhewekan, apa maneh ora duwe SIM pisan,” sumam­bunge warga liyane semu nyalahake wong tuwane Tarmidi.
Keprungu yen Tarmidi nandhang kacilakan, sauntara Rendi mung dheleg-dheleg. Sebab dhek awan, Tarmidi meksa arep ngajak dheweke melu trek-trekan sepedha montor. Tujune pangajak mau ditolak. Saumpama Rendi sida melu ngono, banjur piye kadadeyane.
“Alhamdulillah, aku isih tansah pinaringan begja kesla­metan,” pangudarasane Rendi ing batin.
Kadadeyan sing dialami dening Tarmidi kena kanggo tepa tuladha, yen sok sapaa wae nindhakake samubarang tanpa petungan akeh sithike bakal nemoni apes. Kaya sing dialami dening Tarmidi, karepe ngono golek kasenengan, nanging te­mahan entuk kacilakan.

-------------------------------------------------Sekian---------------- ------------------------------------