This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Bimbingan Konseling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bimbingan Konseling. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Desember 2014

Tujuan Bimbingan Konseling di Sekolah

Tujuan Bimbingan Konseling di Sekolah
Setiap kegiatan atau aktivitas tentunya mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Demikian juga halnya dengan kegiatan bimbingan konseling. Hal ini sesuai dengan pendapat ahli yang menyatakan bahwa “Tujuan dalam proses bimbingan konseling adalah membantu murid memperoleh identitas dirinya sebagai landasan pokok dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dalam keseluruhan kehidupan pribadinya” (Kartikawati, 1995: 5).
        Sedangkan ahli lain menyatakan bahwa “Tujuan pelayanan bimbingan konseling bagi para siswa adalah membantu siswa agar dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan hidupnya yang meliputi aspek pribadi-sosial, belajar dan karier. Bimbingan pribadi-sosial dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan tugas perkembangan paribadi-sosial dalam mewujudkan pribadi yang takwa, mandiri dan bertanggung jawab; bimbingan belajar dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan tugas perkembangan pendidikan; dan bimbingan karier dimaksudkan untuk mewujudkan pribadi pekerja yang produktif” (Sukardi, 2002: 29).
Jadi secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan layanan bimbingan adalah membantu mengatasi berbagai macam kesulitan yang dihadapi siswa sehingga terjadi proses belajar mengajar yang efektif dan efisien.
Dari pendapat para ahli di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam bimbingan konseling adalah agar siswa mempunyai kemampuan untuk memahami diri, menerima diri, mengarahkan diri dan merealisasikan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya dalam rangka pencapaian tingkat perkembangan yang optimal sesuai dengan kemampuannya, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.
        Tujuan ini diarahkan terutama bagi siswa yang dalam memberikan motivasi belajar atau pelanggaran lain secara umum misalnya sering melanggar tata tertib sekolah seperti membolos, merokok, mengacau dalam kelas, sering tidak masuk tanpa keterangan dan lain-lain.
       Selain tujuan umum bimbingan konseling seperti dikemukakan di atas, dalam buku Pedoman Bimbingan dan Konseling dijelaskan bahwa secara khusus layanan bimbingan konseling bertujuan untuk membantu siswa agar dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan yang meliputi aspek pribadi-sosial, pendidikan dan karier.
                               Dalam aspek tugas perkembangan pribadi sosial, layanan bimbingan konseling membantu siswa agar:
1)      Memiliki kesadaran diri.
2)    Dapat mengembangkan sikap positif, seperti menggambarkan orang-orang yang disenangi.
3)      Membuat pilihan secara sehat.
4)      Mampu menghargai orang lain.
5)      Memiliki rasa tanggung jawab.
6)      Mengembangkan keterampilan hubungan antar pribadi.
7)      Dapat menyelesaikan konflik.
8)      Dapat membuat keputusan secara efektif.
Dalam aspek tugas perkembangan pendidikan, bimbingan konseling membantu siswa agar:
1)      Dapat melaksanakan keterampilan atau teknik belajar secara efektif.
2)      Dapat menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan.
3)      Mampu belajar secara efektif.
4)      Memiliki keterampilan dan kemampuan dalam menghadapi valuasi/ujian.
Sedangkan dalam aspek tugas perkembangan karier, layanan bimbingan konseling membantu siswa agar:
1)   Mampu membentuk identitas karier dengan cara mengenali ciri-ciri pekerja di dalam berbagai lingkungan kerja.
2)      Mampu merencanakan masa depan.
3)      Dapat membentuk pola-pola karier, yaitu kecenderungan arah karier.
4)      Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat (Taher, 1995: 4-5).
         Sumber  :
      1.  Kartikawati, Etis, 1995. Bimbingan Konseling, Jakarta: Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam dan Universitas Terbuka.
        2.   Sukardi, 2002. Pengantar Pelaksana Bimbingan konseling di Sekolah. Jakrta: Rineka Cipta.
        3.  Taher, Tarmizi, 1995. Pedoman Bimbingan dan Konseling, Departemen Agama RI, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.

Prinsip-Prinsip Bimbingan Konseling

Prinsip-Prinsip Bimbingan Konseling
Prinsip-prinsip Bimbingan konseling dapat ditinjau dari dua segi, yaitu prinsip-prinsip umum dan prinsip-prinsip khusus.
a.       Prinsip-prinsip Umum, meliputi:
1)     Karena bimbingan berhubungan dengan sikap dan tingkah laku individu, perlulah diingat bahwa sikap dan tingkah laku individu itu terbentuk dari segala aspek kepribadian yang unik dan ruwet.
2)      Perlu dikenal dan dipahami perbedaan individual dari pada individu yang dibimbing.
3)      Bimbingan harus berpusat pada individu yang dibimbing.
4)    Masalah yang tidak dapat diselesaikan di sekolah harus diserahkan kepada individu atau lembaga yang berwenang melakukannya.
5)  Bimbingan harus dimulai dengan identifikasi kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan oleh individu yang dibimbing.
6)      Bimbingan harus fleksibel sesuai dengan kebutuhan individu atau siswa.
7) Program bimbingan harus sesuai dengan program pendidikan di sekolah yang bersangkutan.
8)  Pelaksanaan program bimbingan harus dipimpin oleh seorang petugas yang memiliki keahlian dalam bimbingan dan sanggup bekerja sama dengan para pembantunya.
9)    Program bimbingan harus senantiasa diadakan penilaian teratur untuk mengetahui sampai di mana hasil dan manfaat yang diperoleh serta penyesuaian antara pelaksanaan dan rencana yang dirumuskan.
b.      Prinsip-prinsip khusus, meliputi:
1)      Prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan.
2)      Prinsip yang berkenaan dengan permasalahan individu.
3)      Prinsip yang berkenaan dengan program-program bimbingan.
4)      Prinsip yang berkenaan dengan pelaksanaan layanan
Dari prinsip-prinsip bimbingan konseling yang disebutkan di atas, dapat dipahami bahwa prinsip-prinsip tersebut menunjukkan pada komitmen guru bimbingan konseling dalam profesinya untuk memberikan layanan kepada siswa dan bekerja sama dengan guru yang lain dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar dan masalah-masalah yang dihadapi siswa di sekolah.

Selasa, 08 April 2014

Hakekat Bimbingan


Hakekat  Bimbingan
 
Menurut Frank Parson, bimbingan adalah sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih,mempersiapkan diri dan memangku suatu jabatan dan mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya” Sedangkan menurut crow & Crow, bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang, laki atau perempuan, yang memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik kepada individu-individu setiap usia untuk membantunya mengatur kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan pandangan hidupnya sendiri, membuat keputusan sendiri dan menanggung bebannya sendiri.
Senada pula,  Djumhur dan M. Surya mengungkapkan bahwa  bimbingan adalah suatu proses yang berlangsung terus menerus dalam hal membantu Individu dalam perkembangannya untuk mencapai kemampuan secara maksimal dalam mengarahkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi drinya maupun bagi masyarakat. Prayitno, bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada siswa-siswa baik secara perorangan (individu) maupun kelompok agar mereka dapat berkembang menjadi pribadi-pribadi yang mandiri. Praytno, mengatakan bahwa Bimbingan adalah (B = Bantuan, I =Individu, M = Mandiri, B = Bahan, I = Interaksi, N = Nasehat, G = Gagasan, A = Asuhan dan N = Norma.
             Sedangkan Miller, Djumhur dan M. Surya, bimbingan adalah bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman dan pengarahan diri yang dbutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimal kepada sekolah, keluarga serta masyarakat”. Sedangkan ,menurut Peraturan Pemerintah No. 28/1990 tentang Pendidikan Dasar, pasal 25 ayat 1, dikatakan bahwa :
    “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenai lingkungan, dan merencanakan masa depan.

Bimbingan dalam rangka menemukan pribadi, mengandung makna bahawa guru kelas dalam kaitannya dengan pelaksanaan bimbingan diharapkan mampu memberikan bantuan kepada siswa, seperti orang tua/wali, agar dengan keinginan dan kemampuannya dapat mengenal kekuatan dan kelemahan yang dimiliki siswa serta menerimanya secara positif dan dinamis sebagai modal pengembangan diri lebih lanjut. Proses pengenalan harus ditindaklanjuti dengan proses penerimaan. 

Bimbingan dalam rangka mengenal lingkungan, mengandung makna bahwa guru seyogyanya mampu memberikan kemudahan (bantuan) kepada siswa dan pihak-pihak yang dekat dengannya, untuk mengenal lingkungannya sekolahnya dengan baik, mengenai fungsi dari semua fasilitas sekolah, termasuk lingkungan yang ada diluar sekolah. Siswa hendaknya mampu mengenal secara lebih baik fungsi dari semua fasilitas yang ada di sekolahnya, yang pada gilirannya akan mampu mengoptimalkan siswa yang bersangkutan dalam menggunakan dengan baik. misalnya mengenalkan fungsi perpustakaan yang ada disekolah, termasuk jenis koleksi, peraturan, petugas dan jadwal penggunaan perpustakaan serta pengenalan labolatorium, sarana olah raga yang ada di sekolah, serta fasilitas lainnya juga perlu diperlukan.

Bimbingan agar siswa mamapu merencanakan masa depannya, mengandung makna bahwa guru diharapkan mampu membantu siswa menganal berbagai jenis pekerjaan dan pendidikan yang ada dilingkungan sekitarnya, serta mengembangkan cita-cita siswa sesuai dengan pengenalan siswa akan berbagai jenis pekerjaan.
Djumhur dan Surya  membagi 6 jenis bimbingan yaitu; bimbingan pengajaran/belajar (Instruction Guidance), bimbingan  pendidikan (Educational Guidance), bimbingan pekerjaan (Vocational Guidance), bimbingan  sosial (Social Guidance),  bimbingan dalam menggunakan waktu senggang (Leisure Time Guidance)  dan  bimbingan dalam masalah-masalah pribadi (Personal Guidance)
Inti dari bimbingan adalah supaya peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual). Konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, konseli memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilai - nilai yang dianut.

Selasa, 22 Januari 2013

Latar Belakang Perlunya Bimbingan Dan Konseling Dalam Pendidikan

Latar Belakang Perlunya Bimbingan Dan Konseling Dalam Pendidikan

Berikut akan dikemukakan beragai latar belakang perunya bimbingan dan konseling dalam pendidikan.
      a.       Latar belakang social budaya
       Perkembangan dan perubahan social budaya sangat cepat terjadi dalam kehidupan manusia saat ini, terutama dengan adanya era globalisasi. Perkembangan dan perubahan tersebut akan mengakibtkan bertambahnya jenis pekerjaan, pendidikan, dan pola yang dituntut untuk mengisi kehidupan tersebut.
     b.       Latar belakang pendidikan
      Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal mempunyai peranan yang penting dalam usaha mendewasakan siswa. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar ada tiga bidang pendidikan yang satu sama lain saling berkaitan
      1.      Bidang pengajaran dan kurikulum
      2.      Bidang administrasi dan kepemimpinan
      3.      Bidang layanan bantuan
     c.       Latar belakang psikologis
         Latar belakang dari segi psikologis menyangkut masalah perkembangan individu, perbedaan individu, kebutuhan individupenyesuaian diri serta masalah belajar. Masalah psikologis siswa dapat berupa:
           1.      Masalah perkembangan individu
      Pada masalah ini siswa diharapkan dapat memberikan bimbingan dan arahan dalam proses perkembangan mereka.
           2.       Masalah perbedaan individu
                   Disekolah siswa dibentuk oleh lingkungan guru dan materi pelajaran yang sama, akan tetapi hasilnya berbeda, ada siswa yang cepat, lambat,  dan malas dalam belajar, kentyataan ini menunjukkan pelayanan bimbingan dan konseling diperlukan, sebab melalui kegiatan bimbingan dan konseling perbedaan individu merupakan faktor layanan.
           3.        Masalah penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku
                      Penyesuaian diri merupakan kelanjutan perubahan individu. Bila individu dapt memenuhi kebutuhan tersebut dan ditunjang oleh lingkungan yang konduksif maka individu dapatmenyesuaikan diri tanpa mengalami masalah.
           4.       Masalah belajar
                     Individu yang sedang belajar dipngaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berasal dalam diri ataupun luardiri mereka. Faktor dalam maupun luar individu dapat menimbulkan masalah belajar bagi siswa.

Kamis, 17 Januari 2013

Tujuan Bimbingan dan Konseling

Tujuan Bimbingan dan Konseling

              Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang; (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin; (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya; (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.
            Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, mereka harus mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi, kekuatan, dan tugas-tugas perkem-bangannya, (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya, (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut, (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya, kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat, (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya; dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal.
Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial, belajar (akademik), dan karir.

1. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah:
  • Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, Sekolah/Madrasah, tempat kerja, maupun masyarakat pada umumnya.
  • Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.
  • Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah), serta dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut.
  • Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan; baik fisik maupun psikis.
  • Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.
  • Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat
  • Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya.
  • Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.
  • Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan sesama manusia.
  • Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain.
  • Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.

2. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah :
  • Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya.
  • Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.
  • Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.
  • Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan membaca buku, mengggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan mempersiapkan diri menghadapi ujian.
  • Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas.
  • Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.
3. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah :
  • Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan.
  • Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir.
  • Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya, dan sesuai dengan norma agama.
  • Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan.
  • Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut, lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja.
  • Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi.
  • Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru, maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut.
  • Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. Oleh karena itu, maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya, dalam bidang pekerjaan apa dia mampu, dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut.
  • Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir.

Rabu, 16 Januari 2013

Jenis-jenis Layanan Bimbingan Konseling di Sekolah

Jenis-jenis Layanan Bimbingan Konseling di Sekolah 
Adapun jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan konseling di sekolah, meliputi:
a.       Layanan Orientasi
Layanan orientasi yaitu layanan bimbingan konseling yang memungkinkan peserta didik dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap peserta didik (Sukardi, 2002: 44).
b.      Layanan Informasi
Layanan informasi yaitu bimbingan yang memungkinkan peserta didik dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan pengaruh yang besar kepada peserta didik (terutama orang tua) menerima dan memahami informasi (seperti informasi pendidikan dan informasi jabatan) (Sukardi, 2002: 45).
c.       Layanan Penempatan dan Penyaluran
Layanan penempatan dan penyaluran yaitu layanan bimbingan yang memberikan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat (misalnya penempatan/penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan atau program studi, program pilihan, magang, kegiatan kurikuler/ekstrakurikuler) sesuai dengan potensi, bakat, dan minat serta kondisi pribadinya (Sukardi, 2002: 45).
d.      Layanan Bimbingan Belajar
Layanan bimbingan belajar yaitu bimbingan konseling yang memungkinkan peserta didik mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi, dan kesenian (Sukardi, 2002: 46).
e.       Layanan Konseling Perseorangan
Layanan konseling perseorangan yaitu layanan bimbingan konseling yang memungkinkan peserta didik yang mendapatkan layanan langsung secara tatap muka dengan guru pembimbing (konselor) dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahannya (Sukardi, 2002: 47).
f.       Layanan Bimbingan Kelompok
Yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan sejumlah peserta didik secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari nara sumber tertentu (terutama dari pembimbing/konselor) yang berguna untuk menunjang kehidupannya sehari-hari baik individu maupun sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat (Sukardi, 2002: 48).
g.      Layanan Konseling Kelompok
Layanan konseling kelompok yaitu layanan bimbingan konseling yang memungkinkan peserta didik memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok (Sukardi, 2002: 49).
Dari jenis-jenis layanan Bimbingan konseling (BK) yang disebutkan di atas, dapat dipahami bahwa jenis-jenis layanan tersebut menunjukkan pada komitmen guru bimbingan konseling dalam profesinya untuk membantu dan mengatasi berbagai macam kesulitan/masalah yang dihadapi siswa di sekolah, sehingga terjadai proses belajar mengajar secara efektif dan efisien. Dan layanan tersebut diarahkan kepada siswa terutama siswa yang sering melanggar tata tertib sekolah, seperti membolos, merokok, mengacau di dalam kelas, sering tidak masuk tanpa keterangan yang jelas, pelanggaran susila atau seks.

            Sumber  :
            Sukardi, 2002. Pengantar Pelaksana Bimbingan konseling di Sekolah. Jakrta: Rineka Cipta.

Selasa, 15 Januari 2013

Jenis-jenis Layanan Bimbingan Konseling di Sekolah

Jenis-jenis Layanan Bimbingan Konseling di Sekolah 
Adapun jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan konseling di sekolah, meliputi:
a.       Layanan Orientasi
Layanan orientasi yaitu layanan bimbingan konseling yang memungkinkan peserta didik dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap peserta didik (Sukardi, 2002: 44).
b.      Layanan Informasi
Layanan informasi yaitu bimbingan yang memungkinkan peserta didik dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan pengaruh yang besar kepada peserta didik (terutama orang tua) menerima dan memahami informasi (seperti informasi pendidikan dan informasi jabatan) (Sukardi, 2002: 45).
c.       Layanan Penempatan dan Penyaluran
Layanan penempatan dan penyaluran yaitu layanan bimbingan yang memberikan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat (misalnya penempatan/penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan atau program studi, program pilihan, magang, kegiatan kurikuler/ekstrakurikuler) sesuai dengan potensi, bakat, dan minat serta kondisi pribadinya (Sukardi, 2002: 45).
d.      Layanan Bimbingan Belajar
Layanan bimbingan belajar yaitu bimbingan konseling yang memungkinkan peserta didik mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi, dan kesenian (Sukardi, 2002: 46).
e.       Layanan Konseling Perseorangan
Layanan konseling perseorangan yaitu layanan bimbingan konseling yang memungkinkan peserta didik yang mendapatkan layanan langsung secara tatap muka dengan guru pembimbing (konselor) dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahannya (Sukardi, 2002: 47).
f.       Layanan Bimbingan Kelompok
Yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan sejumlah peserta didik secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari nara sumber tertentu (terutama dari pembimbing/konselor) yang berguna untuk menunjang kehidupannya sehari-hari baik individu maupun sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat (Sukardi, 2002: 48).
g.      Layanan Konseling Kelompok
Layanan konseling kelompok yaitu layanan bimbingan konseling yang memungkinkan peserta didik memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok (Sukardi, 2002: 49).
Dari jenis-jenis layanan Bimbingan konseling (BK) yang disebutkan di atas, dapat dipahami bahwa jenis-jenis layanan tersebut menunjukkan pada komitmen guru bimbingan konseling dalam profesinya untuk membantu dan mengatasi berbagai macam kesulitan/masalah yang dihadapi siswa di sekolah, sehingga terjadai proses belajar mengajar secara efektif dan efisien. Dan layanan tersebut diarahkan kepada siswa terutama siswa yang sering melanggar tata tertib sekolah, seperti membolos, merokok, mengacau di dalam kelas, sering tidak masuk tanpa keterangan yang jelas, pelanggaran susila atau seks.

            Sumber  :
            Sukardi, 2002. Pengantar Pelaksana Bimbingan konseling di Sekolah. Jakrta: Rineka Cipta.

Selasa, 08 Januari 2013

Tujuan Bimbingan dan Konseling

Tujuan Bimbingan dan Konseling

              Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang; (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin; (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya; (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.
            Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, mereka harus mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi, kekuatan, dan tugas-tugas perkem-bangannya, (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya, (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut, (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya, kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat, (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya; dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal.
Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial, belajar (akademik), dan karir.

1. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah:
  • Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, Sekolah/Madrasah, tempat kerja, maupun masyarakat pada umumnya.
  • Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.
  • Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah), serta dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut.
  • Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan; baik fisik maupun psikis.
  • Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.
  • Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat
  • Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya.
  • Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.
  • Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan sesama manusia.
  • Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain.
  • Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.

2. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah :
  • Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya.
  • Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.
  • Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.
  • Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan membaca buku, mengggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan mempersiapkan diri menghadapi ujian.
  • Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas.
  • Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.
3. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah :
  • Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan.
  • Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir.
  • Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya, dan sesuai dengan norma agama.
  • Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan.
  • Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut, lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja.
  • Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi.
  • Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru, maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut.
  • Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. Oleh karena itu, maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya, dalam bidang pekerjaan apa dia mampu, dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut.
  • Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir.